Dilema Driver Ojol di Samarinda: Tercekik Pertamax, Pendapatan Amblas, hingga Terpaksa Ngantri Pertalite

Foto : Potret salah satu SPBU di Kota Samarinda. (Abika/Media Kaltim)

SAMARINDA – Penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax yang meroket hingga Rp16.500 per liter sejak 10 Juni lalu, mulai memukul sektor transportasi informal di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Kenaikan ini juga dirasakan para pengemudi ojek online (ojol) yang kini harus memutar otak lebih keras demi menutupi biaya operasional harian, di tengah kondisi pendapatan yang justru kian merosot.

Kondisi ini salah satunya dirasakan oleh Haidin Wahyu (20), seorang pengemudi ojol yang juga berstatus sebagai mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Samarinda. Ia mengaku sangat terbebani dengan lonjakan harga Pertamax, yang dinilainya membebani masyarakat.

“Ini sangat memberatkan bagi orang-orang yang menggunakan Pertamax, karena harganya naik drastis dari Rp12.500 menjadi Rp16.500 per liter. Ini jelas sangat memberatkan warga,” ujar Haidin saat ditemui di lapangan.

Demi bertahan di tengah situasi ini, Haidin harus memutar haluan dengan beralih menggunakan BBM bersubsidi jenis Pertalite. Alasan utama peralihan ini adalah untuk efisiensi biaya operasional, mengingat mobilitas pekerjaannya yang tinggi dan menempuh jarak jauh setiap hari.

Baca Juga:   Jalin Kerjasama dengan Pemkot Samarinda, RSUD AWS Pastikan Pasien Tanpa Keluarga Tetap Mendapat Layanan Kesehatan

Pilihan ini bukan tanpa konsekuensi. Migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite membuat antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Samarinda menjadi semakin panjang.

“Karena motor ini dipakai buat ngojol, sedangkan perjalanan jauh dan butuh bensin dengan harga yang murah tapi harus ngantri yang biasanya 5 menit sekarang bisa sampai 15 menit” ungkapnya.

Selain dipusingkan oleh urusan bahan bakar, Haidin juga menyoroti lesunya orderan akhir-akhir ini yang membuat pendapatannya merosot.

“Sekarang (orderan) jarang mas. Saya itu biasanya dapat pendapatan kotor Rp200 ribu sampai Rp250 ribu, sekarang cuma bisa pas-pasan Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Bersihnya itu di kisaran Rp70 ribu sampai Rp100 ribu saja, karena sudah kepotong uang makan dan bensin,” keluhnya.

Haidin menaruh harapan besar agar pemerintah mengevaluasi kembali kebijakan ini. Ia menekankan perlunya ada keseimbangan antara biaya hidup dan pendapatan masyarakat.

“Untuk harapan ke pemerintah semoga harga BBM nya turun, kembali seperti semula, atau harganya tetap tetapi UMR dinaikan” tutup Haidin

Baca Juga:   Aih Cantiknya, Natasya Priyanka Putri Indonesia Kaltim 2023

Penulis : Abika Ramadhan
Editor : Muhammad Rafi’i

BERITA POPULER