Foto: Klenteng Thien Le Kong Samarinda. (Hadi Winata/Radar Samarnda)
SAMARINDA — Menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili hingga puncak Cap Go Meh, pengurus Klenteng Thien Le Kong Samarinda mematangkan berbagai persiapan, baik dari sisi ritual, dekorasi, hingga penyesuaian agenda perayaan.
Langkah ini dilakukan seiring sebagian rangkaian kegiatan yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Sekretaris Klenteng Thien Le Kong, Hanson Tjahaja, mengatakan persiapan Imlek tahun ini sudah dimulai sejak awal Januari 2026.
Fokus awal diarahkan pada pembenahan fisik klenteng sebagai bentuk kesiapan menyambut umat dan pengunjung.
“Kami mulai dari pembersihan menyeluruh area klenteng, pengecatan bangunan utama, sampai fasilitas penunjang. Setelah itu baru perlengkapan ibadah dan dekorasi,” ujar Hanson.
Berbagai ornamen khas Imlek pun mulai menghiasi klenteng tertua di Samarinda tersebut.
Ratusan lampion atau tenglong dipasang di berbagai sudut, dilengkapi lampu teratai yang menjadi ciri khas perayaan Imlek.
Dekorasi tahun ini disesuaikan dengan tema Shio Kuda, penanda Tahun Baru China 2577 Kongzili.
Tak hanya dekorasi, persiapan ritual keagamaan juga dilakukan secara bertahap. Pengurus membersihkan rupang atau patung dewa-dewi serta mengganti busana di 11 altar yang ada di klenteng.
“Semua altar kami siapkan agar umat bisa bersembahyang dengan khusyuk saat Imlek,” kata Hanson.
Selain Imlek, perhatian juga diarahkan pada persiapan Cap Go Meh yang sebagian agendanya beririsan dengan bulan Ramadan.
Pengurus klenteng menyiapkan sejumlah penyesuaian sebagai bentuk penghormatan kepada umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.
“Untuk Imlek tidak terlalu berpengaruh karena sebelum puasa. Penyesuaian kemungkinan ada di Cap Go Meh. Prinsipnya kami ingin tetap saling menghargai,” ujarnya.
Salah satu agenda yang masih dibahas adalah pertunjukan barongsai dan naga. Pengurus klenteng saat ini masih berkoordinasi dengan Federasi Olahraga Barongsai Seluruh Indonesia (FOBI) untuk menentukan jadwal dan durasi penampilan.
“Opsi yang dibahas, barongsai tetap ada tapi dibatasi waktunya, kemungkinan hanya sampai siang. Untuk pertunjukan malam masih menunggu keputusan rapat,” jelas Hanson.
Dari sisi kunjungan, jumlah umat dan pengunjung diperkirakan meningkat signifikan selama periode Imlek. Jika pada hari biasa berkisar 2.000 hingga 3.000 orang per bulan, saat Imlek jumlahnya bisa melonjak hingga sekitar 6.000 orang.
Pengunjung tidak hanya datang dari Samarinda, tetapi juga dari daerah lain di Kalimantan Timur seperti Balikpapan dan Bontang.
Adapun sembahyang malam pergantian tahun Imlek dijadwalkan berlangsung pada Senin (16/2/2026) mulai pukul 20.00 Wita hingga tengah malam. Ibadah kemudian dilanjutkan pada Selasa (17/2/2026) sejak pagi hari.
“Kami membuka kesempatan bagi masyarakat umum yang ingin berkunjung, baik untuk bersembahyang maupun sekadar menyaksikan suasana toleransi dan keharmonisan di Samarinda,” tutup Hanson.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



