Pantau Sebaran Karhutla, Helikopter BNPB Sisir Titik Api Samarinda-Kukar

SAMARINDA – Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, melakukan pemantauan udara secara langsung, meninjau sebaran titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kota Samarinda dan sekitarnya, pada Rabu (9/9/2026).

Penerbangan pantauan tersebut bertolak dari Bandara APT Pranoto Samarinda pada pukul 14.25 Wita, menggunakan helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam tinjauan udara ini, Saefuddin Zuhri didampingi oleh Ketua Info Taruna Samarinda (ITS), Joko Iswanto, serta pewarta dari mediakaltim.com.

Selama kurang lebih 40 menit mengitari wilayah udara Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), rombongan memantau sejumlah titik api aktif. Dari pantauan udara, teridentifikasi beberapa sebaran titik kebakaran di kawasan Samarinda. Mulai dari Palaran, Sungai Siring, dan Bukuan.

Sementara di wilayah Kukar, titik api terlihat di Handil Bakti, Anggana, Muara Badak, Kutai Lama, Sido Mulyo, dan Desa Saliki.

Kondisi terparah terpantau di kawasan Bantuas (Samarinda) dan Kutai Lama (Kukar). Kepulan asap tebal di kedua kawasan tersebut memunculkan kabut pekat, hingga membatasi jarak pandang secara signifikan.

Baca Juga:   Pasar Pagi Tak Kunjung Ramai, DPRD Samarinda Dorong Perubahan Konsep

Saat berada di atas helikopter, Saefuddin Zuhri menyoroti karakter lahan yang terbakar di kawasan tersebut. Menurutnya, karakteristik tanah gambut membuat upaya pemadaman tidak cukup hanya mengandalkan helikopter pengebom air (water bombing).

“Jika melakukan pemadaman cuma dari udara mungkin tidak bisa seluruhnya padam, harus ada penanganan dari darat. Karena di sana tanahnya gambut, jadi strategi pemadamannya harus dikombinasikan antara udara dan darat,” ujar Saefuddin saat berada di udara.

Helikopter akhirnya mendarat kembali di Bandara APT Pranoto pada pukul 15.10 Wita. Usai mendarat, Saefuddin menyampaikan hasil pemantauan serta evaluasi langkah penanganan karhutla bersama tim penerbang BNPB.

Dari hasil pemantauan karhutla, ada beberapa titik yang harus disiram air menggunakan helikopter. Di Samarinda diperkirakan ada sekitar 3 titik. Tapi yang paling besar ada 2 titik, salah satunya di Bantuas yang apinya bahkan sudah melompati jalan.

“Insya Allah dari BPBD akan langsung bergerak mengeksekusi penanganan api di jalur tersebut,” jelasnya saat diwawancarai usai turun dari helikopter.

Saefuddin juga menjelaskan kendala teknis yang dihadapi armada pemadam udara saat operasi water bombing yang telah dimulai sejak pagi hari.

Baca Juga:   Ribuan Lapak Pasar Pagi Masih Kosong, Pemkot Samarinda Ultimatum Pedagang yang Tidak Berjualan Hingga Akhir Agustus

“Tadi pagi sudah diupayakan pemadaman dari udara. Namun, karena air yang dijatuhkan dari helikopter seberat satu ton itu menyebar saat jatuh, dampaknya tidak sepenuhnya menembus hingga ke lapisan bawah gambut. Begitu helikopter istirahat dan kami cek lagi dari udara, ternyata di bagian bawah tanah masih terus membara. Memang harus ada kerja sama tim darat dan udara untuk benar-benar memadamkan sumber apinya,” pungkasnya.

Pewarta: Dimas
Editor: Muhammad Rafi’i

BERITA POPULER