Foto: Gedung Pandurata RSUD AWS, Samarinda. (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA – Setelah bertahun-tahun bergulat dengan ruang perawatan yang padat dan antrean pasien yang mengular, RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda akhirnya menemukan titik terang.
Jawaban atas masalah klasik itu kini hadir lewat pembangunan Gedung Pandurata, gedung sembilan lantai yang dirancang menjadi pusat layanan kesehatan modern dan representatif bagi masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim).
Pemerintah Provinsi Kaltim menyiapkan anggaran hingga Rp100 miliar untuk melengkapi gedung baru ini dengan peralatan medis canggih. Sementara pembangunan fisiknya, yang dimulai sejak 2023, telah menghabiskan investasi lebih dari Rp370 miliar.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan pembangunan Pandurata kini memasuki tahap akhir. Targetnya, semua pekerjaan fisik rampung pada Desember 2025 agar bisa segera dilakukan pemasangan alat kesehatan.
“Pandurata kita siapkan sebagai solusi jangka panjang bagi RSUD AWS yang selama ini mengalami kelebihan kapasitas. Kalau tidak ada kendala, awal 2026 sudah siap beroperasi,” kata Jaya, Rabu (22/10/2025).
Menjawab Lonjakan Pasien yang Tak Pernah Reda
Sebagai rumah sakit rujukan terbesar di Benua Etam, RSUD AWS menjadi tumpuan utama masyarakat dari kesepuluh kabupaten dan kota. Kondisi itu membuat beban layanan meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Keterbatasan ruang perawatan dan fasilitas membuat sebagian pasien kerap menunggu berjam-jam, bahkan berhari-hari, untuk mendapat tempat tidur kosong. Di sinilah Gedung Pandurata diharapkan menjadi solusi.
“Gedung baru ini akan menambah kapasitas hingga 700 tempat tidur. Selain rawat inap, beberapa layanan seperti hemodialisa juga akan dipindahkan ke sana,” jelas Jaya.
Gedung Pandurata tak hanya dibangun untuk menambah ruang. Seluruh rancangan mengikuti Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.
Sistem ini memastikan seluruh pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mendapatkan layanan dengan mutu yang sama tanpa pembeda kelas.
KRIS mencakup 12 indikator, di antaranya jarak antar tempat tidur, pencahayaan alami, ventilasi, kamar mandi dalam, serta ketersediaan outlet oksigen di setiap ruang pasien.
“Kita ingin semua pasien merasa nyaman, aman, dan mendapat pelayanan dengan standar yang sama. Gedung Pandurata adalah simbol perubahan itu,” tegasnya.
Modernisasi RSUD AWS
Plt Direktur RSUD AWS Samarinda, Indah Puspitasari, menyebut Gedung Pandurata bukan sekadar proyek fisik, melainkan bagian dari transformasi besar dalam sistem pelayanan rumah sakit.

Gedung ini akan difungsikan sebagai pusat rawat inap modern dengan sistem digitalisasi pelayanan, efisiensi ruang, serta area pelayanan pasien yang lebih manusiawi.
“Selama ini pasien sering kali menunggu karena ruang rawat terbatas. Dengan Pandurata, kita harap antrean bisa berkurang dan pelayanan jauh lebih cepat,” ujarnya.
Meski sebagian layanan akan berpindah ke gedung baru, beberapa unit seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD) tetap berada di lokasi lama karena dinilai masih ideal dan strategis. Sementara bangunan lama yang sudah tidak layak akan diubah menjadi ruang terbuka hijau.
Pembangunan Pandurata menandai era baru bagi RSUD AWS dan pelayanan kesehatan di Kaltim. Dengan kapasitas besar, fasilitas lengkap, dan sistem yang mengikuti standar nasional, rumah sakit ini diharapkan tak lagi menjadi simbol antrean panjang, melainkan wajah baru pelayanan publik yang lebih manusiawi.
“Pandurata bukan hanya bangunan, tapi bentuk komitmen untuk menghadirkan layanan kesehatan yang bermartabat bagi masyarakat Kaltim,” tutup Plt Direktur.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



