Hetifah Ngopi Bareng Tenaga Pendidik Madrasah, Pemanfaatan AI Jadi Bahasan

SAMARINDA – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia pendidikan menjadi salah satu bahasan utama dalam kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) bersama guru dan tenaga kependidikan madrasah serta pesantren di Samarinda, Minggu (25/10/2026).

Kegiatan yang diinisiasi Anggota Komisi VIII DPR RI daerah pemilihan Kalimantan Timur, Dr. Ir. Hj. Hetifah Sjaifudian, MPP, itu berlangsung di Auditorium Iqro PSBB MAN 2 Samarinda, pukul 09.00–12.00 Wita.

Sebanyak 150 peserta mengikuti kegiatan bertema “Transformasi Digital Madrasah: Meningkatkan Kompetensi Guru dan Kualitas Pendidikan Islam” tersebut.

Hadir sebagai pemateri, Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Prof. Dr. Zurqoni, M.A., serta tenaga profesional AI, Abdillah Syafei, S.Ag., C.Ht. Kegiatan juga dihadiri Kepala Bidang Madrasah Kanwil Kementerian Agama Kalimantan Timur, H. Sabransyah, S.IP., S.HI., yang memberikan sambutan.

Dalam pemaparannya, Abdillah menjelaskan bahwa pelatihan tersebut bertujuan membantu guru Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), serta pengajar pesantren memahami dan memanfaatkan AI secara bijak untuk mendukung proses pembelajaran.

Baca Juga:   Siapkan Kejutan Seru, DPMPD Kaltim Ajak Masyarakat Meriahkan di Pesta Rakyat 2025

Ia mencontohkan penggunaan ChatGPT yang dapat membantu pengajar mencari informasi dan menyusun materi pembelajaran. Namun, hasil yang diperoleh sangat bergantung pada ketepatan dan kejelasan pertanyaan atau instruksi yang diberikan pengguna.

“Contohnya menggunakan chatGPT, kita harus detil dan memeberikan pertanyaan yang tepat untuk menjawab persoalan apapun yang mendukung program pembelajaran, ” katanya.

Namun ia juga mengingatkan bahwa AI juga bisa membawa ke arah fitnah dikarenakan kemampuannya menciptakan karya visual yang begitu bebas dan tanpa batas.

“Untuk itu kebijakan kita sendirilah yang akan menjadi filter dan seleksi dari manfaat dan positif dan negatif dari AI tersebut,” paparnya.

Sebagai inisiator, Hetifah menerangkan pesantren menjadi alternatif pendidikan yang tidak dipandang sebelah mata sebagaimana Madrasyah. Dan peran AI juga penting di dalamnya sebagai penyeimbang materi tren dan teknologi yang tak bisa ditinggal.

Ia juga memberikan perhatian agar kualitas pendidikan di pesantren bagi para pengelola dan pengajarnya, bisa memilah bagaimana materi AI bisa diterapkan dan bisa dicerna oleh para santri terlepas dari minimnya sarana dan prasarana ponpes di wilayah tertentu.

Baca Juga:   Pelaku Belum Terkuak, Koalisi Masyarakat Sipil Desak Penuntasan Dugaan Pembunuhan Berencana Warga Muara Kate

“Pasti akan menjadi perhatian kami di Komisi VIII untuk mendapatkan formula yang pas bagaimana pembelajaran berkualitas di pesantren baik pada pelajaran reguler maupun penerapan AI baik bagi pengajar dan bagi para santri,” kata Hetifah.

Pewarta: Adhi Abdhian
Editor: Nicha R

BERITA POPULER