Air Bendungan Lempake Kian Menyusut, Volume Tampungan Tinggal 0,53 Juta Metek Kubik

SAMARINDA – Bendungan Lempake terus menyusut. Data BWS Kalimantan IV per 5 September 2026 mencatat volume tampungan tinggal 0,53 juta meter kubik, dengan elevasi muka air sekitar 6,85 mdpl.

Posisi itu tinggal 35 sentimeter dari elevasi 6,5 mdpl. Jika penurunan terus terjadi, pasokan untuk irigasi akan kembali dikurangi. Air baku untuk Perumdam Tirta Kencana Samarinda menjadi prioritas.

Saat ini air yang dikeluarkan dari bendungan sekitar 0,40 meter kubik per detik. Sebanyak 0,160 meter kubik per detik dialokasikan untuk air baku Perumdam dan sekitar 0,238 meter kubik per detik untuk irigasi.

Penurunan berlangsung cepat. Media Kaltim mencatat elevasi Bendungan Lempake masih 7,05 mdpl pada 29 Agustus. Artinya, dalam sekitar sepekan muka air turun 20 sentimeter.

BWS sebelumnya sudah membatasi aliran irigasi untuk mempertahankan cadangan air baku. Pada akhir Agustus, BWS memperkirakan pasokan untuk Perumdam masih bisa dipertahankan hingga 29 September apabila tidak turun hujan dan pola penggunaan air tidak berubah.

“Untuk alokasi air di bendungan memang diutamakan air baku PDAM karena kebutuhan utama. Untuk pintu air irigasi sudah kami batasi, agar air tetap mengalir lebih lama,” kata Staf UPB Wilayah II BWS Kalimantan IV Hayu Wardana saat itu.

Baca Juga:   Pengendara Kabur dari Razia, Terjebak di Gang Buntu dan Kena Tilang

Kondisi terbaru membuat proyeksi tersebut perlu dihitung kembali. Sebab, muka air kini sudah turun ke kisaran 6,8 mdpl.

Pembatasan air juga berdampak pada petani Lempake. Terdapat sekitar 530 petani aktif dengan luas baku area irigasi 714,56 hektare. Sejumlah sawah sebelumnya mulai mengalami kekurangan air setelah debit irigasi dikurangi.

BWS memprioritaskan pasokan irigasi untuk sawah yang sudah ditanami agar petani tidak kehilangan seluruh modal tanam. Sementara petani di lahan tadah hujan yang belum menanam diminta menunda penanaman hingga kondisi air membaik.

Kondisi Bendungan Lempake juga penting karena sumber air baku dari Sungai Mahakam sempat terganggu intrusi air laut selama kemarau. IPA Pulau Atas sebelumnya sempat berhenti berproduksi setelah kadar klorida meningkat.

Dengan elevasi yang terus turun, BWS kini perlu menentukan kembali berapa lama cadangan air masih mampu bertahan jika hujan belum turun. (ant/MK)

Editor: Agus S

BERITA POPULER