Foto: Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian SMA Disdikbud Kaltim, Atik Sulistiowati. (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA – Setelah melalui proses panjang selama tiga tahun, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur akhirnya menuntaskan penyusunan Buku Muatan Lokal (Mulok) untuk jenjang SMA. Buku ini menjadi penutup dari rangkaian pengembangan kurikulum Fase F bagi siswa kelas XII, dan siap dicetak untuk digunakan pada tahun pelajaran 2026.
Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian SMA Disdikbud Kaltim, Atik Sulistiowati, menjelaskan bahwa seluruh proses uji keterbacaan telah selesai dengan hasil memuaskan.
“Hasil keterbacaan menunjukkan tingkat pemahaman dan penerimaan siswa sangat baik. Ini menandakan buku-buku tersebut siap untuk dicetak dan didistribusikan,” ungkap Atik.
Ia memaparkan, penyusunan buku muatan lokal dimulai sejak 2022. Tahun pertama difokuskan pada kurikulum dasar, disusul penyusunan buku untuk kelas X pada 2023, kelas XI di 2024, dan kini kelas XII di 2025.
“Kami targetkan naskah final rampung bulan ini, sehingga awal tahun ajaran 2026 buku sudah bisa digunakan di sekolah,” tambahnya.
Menurut Atik, kehadiran buku muatan lokal diharapkan dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap karakter dan kekayaan daerah. Pendidikan, katanya, bukan hanya soal ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang menanamkan rasa bangga terhadap identitas daerah.
“Melalui muatan lokal ini, kami ingin siswa Kaltim mengenal lebih dekat akar budayanya dan tumbuh dengan rasa bangga terhadap daerahnya sendiri,” tuturnya.
Sementara itu, Dr. Yuni Utami, salah satu penelaah buku, menilai penyusunan muatan lokal ini merupakan bentuk nyata implementasi kebijakan nasional yang memberi ruang bagi daerah untuk menonjolkan kekhasannya dalam pendidikan.
“Kaltim memilih tiga ranah utama yaitu Bahasa Daerah, Sumber Daya Alam, dan Seni Budaya. Karena ketiganya paling mencerminkan identitas dan karakter masyarakat di sini,” jelas Yuni.
Yuni mengungkapkan, setiap tahun tim penyusun mengadakan empat kali pertemuan intensif. Setiap sesi berlangsung tiga hingga empat hari dengan target capaian yang berbeda.
Akademisi, komunitas budaya, hingga penutur asli bahasa daerah dilibatkan secara aktif untuk memastikan buku memiliki kedalaman lokal yang autentik.
>“Khusus untuk buku Bahasa Daerah, prosesnya lebih menantang karena melibatkan penerjemahan dan revisi oleh penutur asli. Versi Bahasa Indonesia disusun terlebih dahulu, baru kemudian disesuaikan kembali dalam bahasa lokal,” terang Yuni.
Setiap daerah di Kaltim, lanjutnya, tetap memiliki ruang representasi sendiri dalam buku tersebut. Misalnya, kisah rakyat Dayak, Berau, dan Paser tidak disatukan, melainkan ditampilkan secara terpisah untuk menonjolkan keunikan masing-masing wilayah.
>“Kami ingin buku ini tidak sekadar informatif, tapi juga hidup. Anak-anak bisa melihat betapa kayanya daerah mereka,” ujarnya.
Meski tak semua usulan dari komunitas bisa terakomodasi sepenuhnya, Yuni menegaskan bahwa semua unsur lokal diberikan porsi seimbang sesuai relevansi kurikulum. Tujuannya agar buku tetap kaya akan nilai kearifan lokal tanpa kehilangan arah pendidikan.
“Ini bukan hanya buku pelajaran, tapi sarana menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya sendiri,” pungkasnya.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



