SAMARINDA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada September 2025 sebesar 1,77 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 108,58. Angka ini menunjukkan peningkatan harga yang relatif terkendali dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2,16 persen.
Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sebesar 2,83 persen dengan IHK 108,99. Sementara inflasi terendah tercatat di Kota Balikpapan, yakni 1,15 persen dengan IHK 108,60. Adapun tingkat inflasi bulanan (month to month) di Kaltim sebesar 0,04 persen, dan inflasi tahun kalender (year to date) mencapai 1,54 persen.
Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana menjelaskan, kenaikan harga disebabkan meningkatnya indeks pada beberapa kelompok pengeluaran utama. Di antaranya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 3,61 persen, pendidikan naik 2,67 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 2,03 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencatat lonjakan tertinggi mencapai 9,16 persen.
“Kelompok perawatan pribadi, seperti emas perhiasan dan produk kebersihan diri, memberikan sumbangan terbesar terhadap inflasi tahun ke tahun,” terang Yusniar dalam laporan resmi BPS Kaltim.
Sebaliknya, beberapa kelompok mengalami penurunan indeks, antara lain transportasi turun 1,36 persen, pakaian dan alas kaki turun 1,02 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang melemah 0,50 persen. Penurunan pada kelompok transportasi utamanya disebabkan turunnya harga tiket pesawat dan bensin.
Komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi tahunan antara lain beras, bawang merah, ikan layang, rokok kretek mesin, kopi bubuk, minyak goreng, dan emas perhiasan. Sedangkan beberapa komoditas yang memberikan andil deflasi meliputi angkutan udara, cabai rawit, sabun detergen, dan telepon seluler.
BPS menilai, meski inflasi Kaltim pada September 2025 relatif stabil, kewaspadaan tetap diperlukan terhadap harga bahan pangan dan komoditas rumah tangga menjelang akhir tahun.
“Kenaikan harga komoditas pangan strategis masih menjadi faktor dominan yang perlu diantisipasi pemerintah daerah,” tambah Yusniar.
Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Nicha R



