SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) telah meluas hingga 7.952 hektare sejak awal Agustus hingga 5 Oktober 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim kini mempercepat koordinasi penanganan di 10 kabupaten/kota untuk mencegah kebakaran semakin meluas.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan sebanyak 1.964 kejadian karhutla tercatat dalam periode tersebut.
“Langkah percepatan koordinasi dan pemantauan lapangan terus dioptimalkan guna menekan potensi perluasan titik api di sepuluh kabupaten kota,” kata Buyung di Samarinda seperti dilansir dari Antara, Selasa (6/10/2026).
Berdasarkan data BPBD Kaltim, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni mencapai 2.483 hektare dari 346 laporan kejadian.
Kabupaten Paser menyusul dengan luasan area terbakar mencapai 1.412 hektare, kemudian Kutai Barat 1.268 hektare dan Berau 1.008 hektare.
Dari total area terdampak, sebagian besar kebakaran terjadi di kawasan non-hutan. Luas lahan non-hutan yang terbakar mencapai 6.187 hektare.
Sementara itu, kawasan hutan yang terdampak tercatat seluas 1.726 hektare dan perkebunan warga seluas 38 hektare.
Kondisi tersebut masih berlanjut memasuki Oktober. Dalam lima hari pertama bulan ini saja, tim lapangan menangani 114 kejadian kebakaran dengan total luasan terdampak mencapai 254 hektare.
Mengantisipasi peningkatan ancaman karhutla, BPBD Kaltim mengoptimalkan Rapat Aktivasi Posko Siaga Darurat Bencana Kekeringan, Karhutla, dan Asap.
Pemantauan titik panas dilakukan secara intensif, baik terhadap sebaran harian maupun akumulatif. Data tersebut dipantau melalui pemetaan berbasis satelit Sipongi Kementerian Lingkungan Hidup.
Koordinasi lintas instansi juga diperkuat. BPBD Kaltim melibatkan TNI, Polri, serta Manggala Agni untuk mempercepat respons ketika ditemukan titik api.
“Koordinasi lintas instansi bersama TNI, Polri, serta Manggala Agni, diperkuat guna menjamin kelancaran respons penanganan darurat di lapangan,” ujar Buyung.
BPBD Kaltim juga menggandeng PLN untuk mengantisipasi dampak karhutla terhadap aset vital, khususnya jaringan transmisi listrik.
Kerja sama tersebut diperlukan untuk memastikan kebakaran yang terjadi di sekitar jalur transmisi tidak mengganggu infrastruktur kelistrikan.
Di tengah kondisi kemarau, BPBD Kaltim mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan pertanian dengan cara membakar.
Aktivitas pembakaran lahan dinilai berisiko memicu kebakaran yang lebih luas, terutama ketika kondisi lahan dan vegetasi berada dalam keadaan kering.
Buyung juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan indikasi munculnya titik api.
“Kami meminta warga segera melaporkan indikasi kemunculan titik api ke posko terdekat demi mencegah meluasnya bencana karhutla,” katanya.
Dengan luasan kebakaran yang telah mencapai hampir 8.000 hektare, BPBD Kaltim kini mengandalkan pemantauan titik panas, koordinasi lintas instansi, serta respons cepat di lapangan untuk menekan penambahan area terdampak. (ANT/MK)



