SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda secara resmi memperpanjang status tanggap darurat bencana untuk periode ketiga. Menyusul ancaman kemarau panjang, serta lonjakan kasus kebakaran lahan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, menyebut langkah strategis tersebut disetujui langsung oleh wali kota Samarinda. Ini untuk merespons cepat kondisi di lapangan serta memastikan keselamatan warga.
“Ya, dilanjutkan,” singkat Suwarso, Kamis (24/9/2026).
Pemberlakuan perpanjangan masa tanggap darurat tahap ketiga ini ditetapkan terhitung sejak tanggal 22 September 2026, hingga 14 hari ke depan. Yakni berakhir pada 5 Oktober 2026.
“Dari tanggal 22 sampai 14 hari berikutnya,” rinci Suwarso terkait masa berlaku status darurat tersebut.
Penyusunan perpanjangan status darurat ini didasarkan pada serangkaian fakta lapangan. Yaitu mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi secara masif, di sejumlah titik.
“Untuk kebakaran lahan itu memang belum kelihatan penurunan,” ungkap Suwarso.
Menurut catatannya, sepanjang hari itu saja terjadi insiden kebakaran di berbagai lokasi terpisah. Mulai dari kawasan Bantuas, Irigasi, Gang Mukhlis, Pampang, hingga Loa Bakung.
“Bahkan hari ini saya hitung hampir enam sampai tujuh tempat,” jelasnya.
Tantangan penanggulangan bencana kian berat karena kemarau memicu fenomena intrusi air laut ke aliran sungai. Sehingga mengganggu pasokan bahan baku pada beberapa unit Instalasi Pengolahan Air (IPA).
“Mengalami kendala beroperasi seratus persen,” kata Suwarso.
Kondisi tersebut memaksa BPBD bersama lintas sektor untuk terus menyalurkan air bersih secara langsung menggunakan armada truk tangki ke pemukiman warga. Pasokan utama didatangkan dari IPA PDAM Cendana yang terus siaga melayani kebutuhan masyarakat.
“Distribusi lebih dari satu juta liter,” bebernya mengenai volume penyaluran air bersih.
Selain kebutuhan rumah tangga, sektor pertanian juga terdampak parah akibat minimnya suplai saluran irigasi sawah. BPBD turun tangan dengan mengerahkan mesin pompa tambahan bagi para petani, salah satunya di kawasan Makroman untuk percepatan musim tanam.
“Kita menambah satu unit lagi untuk percepatan tanamnya,” tutur Suwarso.
Guna memperluas ketersediaan air alternatif, pihak pemerintah mulai memanfaatkan kolam eks tambang di daerah Bukuan dan Bayur setelah melalui pengujian kualitas oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
“Air bakunya layak digunakan untuk MCK, non-konsumsi,” ujarnya.
Sementara itu, untuk mengatasi krisis air di intake Benanga, pemerintah lintas instansi tengah merancang skenario rekayasa penambahan debit air baku. Pasalnya, pembukaan jalur air sebelumnya dinilai belum memberikan tambahan volume yang optimal.
“Kenaikannya debit air cuma tiga puluh senti,” papar Suwarso.
Pihak BPBD juga terus bersandar pada analisa cuaca BMKG yang mengindikasikan musim kemarau ekstrem masih akan membayangi wilayah Kalimantan Timur.
“Masih terjadi El Nino yang kuat, masih terjadi kekeringan,” tegas Suwarso.
Kondisi atmosfer tersebut juga menentukan keberlanjutan program Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan yang kini jadwalnya tengah ditinjau ulang oleh tim terpadu.
“Tergantung nanti dari prakiraan BMKG,” ungkap Suwarso terkait kemungkinan perpanjangan OMC.
Untuk pemadaman api di titik-titik yang sulit dijangkau selang mobil pemadam, BPBD memaksimalkan sisa kuota helikopter water bombing yang masih tersedia sekitar 75 jam terbang. Bantuan bom air telah dikerahkan ke titik rawan seperti Bantuas, APT Pranoto, hingga Gang Mukhlis di Kelurahan Mugirejo.
“Minta water bombing karena jauh sekali dari jangkauan air,” katanya.
Kendati perpanjangan telah dikunci selama dua pekan, Pemkot Samarinda memastikan proses pemantauan lapangan akan berjalan dinamis dan siap disesuaikan apabila indikator penanganan bencana berangsur normal sebelum tenggat berakhir.
“Bisa saja nanti di tengah jalan dilakukan evaluasi,” kata Suwarso.
Pewarta : Abdi
Editor : Muhammad Rafi’i



