Karhutla Merambat ke Pusat Rehabilitasi di Samboja, 11 Orang Utan Dievakuasi

SAMARINDA – Kobaran api yang membesar di kawasan berbatasan dengan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, membuat pusat rehabilitasi orangutan Yayasan Jejak Pulang berada dalam situasi genting.

Pada Selasa (1/9/2026) sore, api yang sebelumnya berkobar di Area Penggunaan Lain (APL) akhirnya melompat masuk ke kawasan KHDTK. Angin kencang membuat kobaran api bergerak cepat dan mengancam kawasan Sekolah Hutan, lokasi 11 orangutan yatim piatu menjalani proses rehabilitasi.

Situasi darurat pun diaktifkan.

Tim Yayasan Jejak Pulang bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Manggala Agni, dan Wildlife Rescue Unit (WRU) bergerak melakukan evakuasi.

Sebanyak 11 orangutan akhirnya berhasil dikeluarkan dari kawasan Sekolah Hutan dan dipindahkan menuju kandang evakuasi di Kilometer 38 Samboja.

General Manager Yayasan Jejak Pulang, Rahmat Novirsal, mengatakan ancaman kebakaran sebenarnya sudah terpantau sejak siang hari. Sebelumnya, tim rutin melakukan patroli tiga kali sehari untuk memastikan kondisi kawasan tetap aman.

“Jam sekitar setengah satu itu mulai terlihat ada kebakaran di area APL. Api mulai berkobar dari jam 2 dan bertambah,” kata Rahmat.

Upaya pemadaman awal sempat dilakukan tim internal. Namun, kencangnya tiupan angin membuat langkah tersebut tidak cukup untuk membendung laju api.

Hingga sekitar pukul 16.00 Wita, api semakin membesar dan melompati batas APL menuju KHDTK.

Di titik inilah keselamatan orangutan menjadi prioritas utama.

Rahmat mengatakan pimpinan Jejak Pulang kemudian memerintahkan evakuasi segera. Bukan hanya kobaran api yang menjadi ancaman, tetapi juga asap yang berpotensi masuk ke kawasan rehabilitasi.

Baca Juga:   Pengamat : Pemprov Kaltim Lambat Tindak Penyimpangan Pengelolaan Royal Suite Hotel

“Yang ditakutkan adalah asap masuk ke kawasan hutan dan membahayakan, apalagi apinya merambat,” ujarnya.

Tim Departemen Orangutan kemudian membawa 11 individu orangutan menuju jalur evakuasi. Armada pendukung disiapkan, termasuk kendaraan dari Jejak Pulang dan WRU BKSDA Kaltim.

Evakuasi dilakukan secara bertahap hingga seluruh orangutan berhasil dipindahkan ke kandang evakuasi di Kilometer 38 Samboja.

Di saat yang sama, Manggala Agni bersama tim pemadam gabungan terus berjibaku menjinakkan api. Sekitar pukul 18.30 Wita, kebakaran di kawasan KHDTK akhirnya berhasil dipadamkan.

Keberhasilan evakuasi tersebut bukan semata respons spontan ketika api sudah datang. Menurut Rahmat, skenario menghadapi ancaman karhutla telah dipersiapkan sejak Juni 2026.

Kesiapsiagaan dilakukan menyusul adanya peringatan terkait ancaman musim kering panjang dan pengaruh El Niño.

“Kesiapsiagaan ini sebenarnya sudah dilakukan sejak bulan Juni. Saat P2HB datang, kita sudah berkolaborasi untuk kesiapsiagaan karena El Niño akan sangat panjang. Ini diantisipasi semenjak 16 Juni. Terbukti bahwa kita bisa melakukannya,” jelasnya.

Persiapan tersebut kemudian terlihat saat situasi darurat benar-benar terjadi. Jalur evakuasi sudah dipikirkan, personel telah mengetahui tugas masing-masing, sementara kendaraan pendukung disiapkan untuk membawa satwa keluar dari kawasan.

Head of Orangutan Care Yayasan Jejak Pulang, Siti Nur Badriyah, mengatakan sehari sebelum kejadian pihaknya bahkan telah mengarahkan para penjaga untuk membawa orangutan mendekati area sungai.

Baca Juga:   Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Rudy Mas'ud: Pemuda Harus Beri Berkontribusi Karena Kaltim Akan Jadi Etalase Indonesia

Pertimbangannya sederhana. Area tersebut lebih sejuk, memiliki sumber air, sekaligus berada lebih dekat dengan pintu keluar Sekolah Hutan.

“Karena ancaman kebakaran ini sudah ada dari jauh hari, dari hari sebelumnya kami sudah menginstruksikan para penjaga untuk datang mendekat ke arah sungai karena dingin dan banyak air,” katanya.

Langkah itu membuat proses evakuasi menjadi lebih cepat ketika status emergency akhirnya diaktifkan.

Sekolah Hutan sendiri merupakan bagian dari pusat rehabilitasi orangutan Yayasan Jejak Pulang di KHDTK Samboja. Dari total kawasan KHDTK sekitar 3.500 hektare, area yang digunakan sebagai Sekolah Hutan mencapai sekitar 130 hektare.

Namun, setelah evakuasi, persoalan baru muncul. Bukan lagi bagaimana menyelamatkan orangutan dari api, melainkan bagaimana menjaga kondisi fisik dan psikologis mereka selama berada di kandang.

Siti mengatakan perubahan lingkungan membuat sejumlah orangutan menunjukkan perilaku bosan. Di alam, mereka terbiasa bergerak bebas, bergelantungan menggunakan liana, bermain, serta mencari pakan di dalam kanopi hutan.

Sementara di kandang, ruang gerak mereka jauh lebih terbatas.

“Di hutan mereka bisa mengayun antar kanopi menggunakan liana dan bermain bersama temannya. Di kandang mereka hanya mendapat perawatan maksimal dari manusia, tapi tentu tidak cukup,” tuturnya.

Karena itu, tim tetap memberikan enrichment atau pengayaan untuk menjaga stimulasi kognitif dan fisik orangutan. Sejumlah fasilitas di dalam kandang dibuat menyerupai kondisi hutan, termasuk pemasangan tali yang dapat digunakan untuk mengayun.

Baca Juga:   Pesta Rakyat Kaltim Digelar Sepekan

Dari sisi kesehatan, 11 orangutan tersebut sejauh ini berada dalam kondisi baik.

Dokter Hewan Yayasan Jejak Pulang, drh. Tetri Regilya, mengatakan belum ditemukan tanda-tanda gangguan kesehatan akibat paparan karhutla.

“Kondisi 11 orangutan di Yayasan Jejak Pulang saat ini baik dan normal. Kami saat ini masih dalam kegiatan observasi, kemungkinan lebih dari satu hari,” katanya.

Meski demikian, observasi tetap dilakukan secara intensif untuk mengantisipasi munculnya gangguan kesehatan, termasuk gejala flu atau dampak lain akibat asap dan perubahan lingkungan.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto, menegaskan evakuasi menjadi pilihan paling tepat untuk memastikan keselamatan sekaligus menjaga kesejahteraan satwa.

“Dari hasil pemeriksaan, 11 individu orangutan dalam kondisi sehat dan aman. Walau ada keterbatasan sarana, pemantauan tetap dilakukan secara ketat oleh tim medis, animal keeper, dan BKSDA Kaltim,” ujarnya.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla di Kalimantan Timur tidak hanya menyentuh kawasan permukiman atau lahan masyarakat.

Pusat rehabilitasi satwa pun berada dalam risiko yang sama.

Bedanya, ketika api mendekat, ada makhluk-makhluk yang tidak bisa memahami peta evakuasi, membaca arah angin, ataupun memilih jalan keselamatan sendiri.

Di KHDTK Samboja, kesiapsiagaan yang dibangun berminggu-minggu sebelumnya akhirnya menjadi pembeda. Api memang sempat masuk ke kawasan rehabilitasi. Tetapi 11 orangutan berhasil keluar lebih dulu sebelum ancaman menjadi lebih besar.

Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Nicha R

BERITA POPULER