SAMARINDA – Dampak El Nino berpotensi memicu peningkatan ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Samarinda. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mencatat lonjakan kasus pada bulan Juli dan memperketat pengawasan di wilayah-wilayah rawan.
Setelah sempat mencatatkan nol kejadian pada Juni lalu, Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso, mengonfirmasi adanya 11 kejadian karhutla sepanjang Juli akibat musim kemarau ekstrem. Titik api tersebar di beberapa area yang memiliki vegetasi semak belukar dan lahan gambut.
“Khusus di bulan Juli ini, sudah ada 11 kejadian, terutama di daerah-daerah gambut dan belukar yang risiko karhutlanya tinggi,” sebutnya.
Guna mengantisipasi perluasan dampak, BPBD telah mengantongi peta dasar daerah rawan bencana serta memperkuat koordinasi bersama TNI, Polri, Damkar, DLH, KPH, hingga jaringan relawan lokal di tingkat kelurahan.
“Ketika api mulai muncul, di sana ada relawan, Kelurahan Tangguh Bencana, dan Tagana yang melakukan pemadaman sejak dini,” jelas Suwarso.
Kebakaran terbesar tercatat meluas hingga 2 hektare di kawasan Bantuas. Proses pemadaman membutuhkan waktu hingga 3 jam, akibat kendala akses air dan medan perbukitan. Di sisi lain, mayoritas pemicu api disebabkan oleh kelalaian warga.
“Sebagian pemicunya ada unsur kelalaian, seperti buang puntung rokok sembarangan atau bakar sampah yang menyebar,” ungkapnya.
BPBD mewajibkan warga untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Rambu larangan juga telah didirikan di zona-zona risiko tinggi, khususnya di wilayah Samarinda Utara.
“Diwajibkan kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Di titik-titik risiko tinggi karhutla sudah kita pasang rambu larangan, paling banyak di wilayah Zona Utara,” imbaunya.
Pewarta: Abdi
Editor: Muhammad Rafi’i



