Riuh Festival Pampang, Ruang Masyarakat Dayak Kenyah Menjaga Warisan Leluhur

Foto: Festival Pampang oleh Masyarakat adat Daya Kenyah di Lamin Adat Pamung Tawai, Samarinda. (Abi/Media Kaltim)

SAMARINDA – Deretan warga mengenakan pakaian adat berdiri rapi di sepanjang jalan menuju Lamin Adat Pamung Tawai, Samarinda. Di bawah langit Samarinda yang cerah, bunyi musik tradisional mulai terdengar bersahut-sahutan, menyambut tamu dan wisatawan yang datang dari berbagai penjuru.

Selama empat hari sejak 25 Juni, Desa Budaya Pampang menggelar Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 sekaligus merayakan hari jadi ke-53 kampung budaya yang telah lama menjadi salah satu wajah pariwisata Kota Tepian.

Suasana khas langsung terasa sejak pintu masuk kawasan desa. Aroma kuliner tradisional bercampur dengan semarak warna-warni busana adat yang dikenakan warga.

Di sepanjang jalan, sejumlah stan menampilkan kerajinan tangan dan aneka produk khas Dayak yang menarik perhatian pengunjung.

Puncak kemeriahan terlihat saat rombongan tamu kehormatan memasuki kawasan adat. Dengan mengenakan pakaian adat Dayak Kenyah dan membawa mandau, mereka diarak menggunakan Alut Adang atau yang lebih dikenal sebagai perahu terbang.

Perahu kayu tersebut diangkat oleh para pemuda Dayak dan dibawa perlahan menuju Lamin Adat. Sorak warga dan wisatawan mengiringi prosesi yang menjadi salah satu tradisi paling dinanti setiap tahun.

Baca Juga:   Maratua Run 2025, Jadi Ajang Promosi Ikon Wisata Premium Kaltim di Kancah Internasional

Sesampainya di dalam lamin, suasana berubah menjadi panggung kebudayaan yang hidup. Para penari muda tampil silih berganti mempersembahkan tarian tradisional.

Tarian Ajay Pilling yang dibawakan kelompok penari laki-laki menampilkan gerakan penuh energi dengan tameng dan pedang di tangan.

Tarian ini menggambarkan keberanian serta ketangguhan lelaki Dayak dalam menjaga komunitasnya.

Tak lama kemudian, gerakan lembut para penari perempuan mengisi ruang lamin melalui tarian Burung Enggang.

Bagi masyarakat adat Dayak Kenyah, burung enggang bukan sekadar satwa, melainkan simbol penghormatan kepada leluhur dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah derasnya arus modernisasi, festival ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang terus dirawat agar tidak hilang ditelan zaman.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, yang hadir dalam pembukaan festival menilai perayaan tersebut memiliki makna lebih luas dibanding sekadar agenda seremonial tahunan.

Menurutnya, ada tiga momentum yang dirayakan sekaligus, yakni hari jadi Desa Budaya Pampang, festival budaya, dan ungkapan syukur masyarakat atas hasil panen yang diperoleh.

Baca Juga:   DPMPD Soroti Data Desa Tak Sinkron, Target Mandiri Terancam

Ia menegaskan bahwa keberagaman yang hidup di Samarinda selama ini merupakan hasil dari semangat gotong royong dan persatuan berbagai kelompok masyarakat yang berbeda latar belakang.

Tak hanya berbicara soal budaya, Andi Harun juga mengaitkan kearifan masyarakat adat dengan isu lingkungan yang kini menjadi tantangan banyak daerah perkotaan.

Menurutnya, masyarakat Dayak Kenyah memberikan contoh bagaimana hubungan manusia dengan alam dapat dijaga secara seimbang. Nilai tersebut dinilai relevan dengan berbagai persoalan yang dihadapi saat ini, mulai dari banjir hingga tanah longsor.

“Dari budaya masyarakat Kenyah, kita belajar besar tentang bagaimana melestarikan visi hijau,” ujarnya.

Di balik kemeriahan festival, panitia mengakui proses persiapan tidak selalu berjalan mudah. Keterbatasan anggaran membuat ruang bagi pelaku UMKM tahun ini belum bisa mengakomodasi seluruh peserta yang ingin terlibat.

Sekretaris panitia, Yusak Lukas, mengatakan persiapan telah dilakukan sejak April melalui pembentukan panitia, promosi, hingga koordinasi dengan berbagai pihak.

Meski jumlah stan terbatas, ia memastikan substansi acara tetap dipertahankan. Bahkan sejumlah rangkaian ritual dan upacara adat masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan hingga penutupan festival pada 28 Juni mendatang.

Baca Juga:   Viral! Buaya Sangatta 'Bertamu' ke Rumah Warga

“Harapan kami festival budaya ini terus dilaksanakan setiap tahun dan bisa ditingkatkan ke level nasional,” katanya.

Dukungan terhadap keberlanjutan festival juga datang dari Pemerintah Kota Samarinda. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Samarinda, Muslimin, menyebut agenda budaya di Pampang telah menjadi kegiatan rutin yang mendapat perhatian pemerintah.

Menurutnya, tahun ini sebenarnya terdapat rencana untuk meningkatkan skala festival menjadi ajang internasional.

Namun keterbatasan anggaran akibat penyesuaian kebijakan keuangan membuat rencana tersebut belum dapat direalisasikan.

Meski demikian, ia menilai manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat tetap nyata. Berbagai produk lokal yang dihasilkan warga, mulai dari kerajinan hingga kopi khas Pampang, memperoleh ruang promosi melalui festival tersebut.

Saat matahari mulai condong ke barat, alunan musik tradisional masih terdengar dari dalam lamin.

Wisatawan terus berdatangan, kamera-kamera sibuk mengabadikan momen, sementara warga adat tetap menjalankan setiap prosesi dengan penuh khidmat.

Di Desa Budaya Pampang, festival ini bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah cara masyarakat menjaga ingatan, merawat akar budaya, sekaligus menyampaikan pesan bahwa tradisi dan kemajuan dapat berjalan berdampingan.

Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky

BERITA POPULER