Pemkot Samarinda Kerahkan Ekskavator Mini Atasi Sedimentasi Drainase, Sukorejo Jadi Prioritas

Foto: Asisten II Sekretaris Kota Samarinda, Marnabas Patiroy. (Hadi Winata/Radar Samarinda)

SAMARINDA – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai mempercepat penanganan sedimentasi dan penyumbatan drainase di sejumlah kawasan rawan genangan.

Langkah ini dilakukan setelah hujan deras dalam beberapa hari terakhir kembali menyebabkan genangan di beberapa titik di Kota Tepian.

Kawasan Sukorejo menjadi lokasi pertama yang diprioritaskan dalam program pengerukan sedimentasi drainase.

Asisten II Sekretaris Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan pemerintah saat ini tengah mengonsolidasikan seluruh potensi yang dimiliki OPD untuk mempercepat proses penanganan sedimentasi.

Menurutnya, meski beberapa drainase sebelumnya telah diperbaiki, sedimentasi kembali muncul akibat karakteristik tanah di Samarinda yang mudah membawa lumpur dan pasir saat hujan deras terjadi.

“Dalam waktu dekat ini kami akan menyelesaikan beberapa titik prioritas penanganan drainase dan sedimentasi. Salah satunya di kawasan Sukorejo,” ujarnya.

Untuk mempercepat pengerjaan, Pemkot Samarinda akan menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah instansi terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat), hingga Tim Hantu Banyu.

Baca Juga:   DPRD Samarinda Ingatkan Agar PLTSa Jangan Jadi Beban APBD

Rapat tersebut difokuskan untuk menyusun strategi percepatan pengerukan sedimentasi di sejumlah saluran drainase yang mulai mengalami penyempitan akibat endapan lumpur.

“Hari Minggu nanti kami akan turun langsung ke lapangan dimulai dari Sukorejo untuk menentukan titik prioritas pengerjaan,” katanya.

Dalam proses pengerukan, pemerintah akan memaksimalkan penggunaan ekskavator mini milik sejumlah OPD. BPBD disebut memiliki tiga unit ekskavator mini, sementara alat serupa juga tersedia di Dinas PUPR dan Dinas Perdagangan.

“Semua potensi perangkat daerah akan kami kolaborasikan,” jelasnya.

Setelah pengerjaan di Sukorejo selesai dievaluasi, penanganan akan dilencanakan berlanjut ke kawasan Damanhuri, Gerilya, Merdeka, Bhakti, Kehutanan hingga KS Tubun yang dinilai memiliki sedimentasi cukup parah.

Marnabas menegaskan pemerintah tidak bisa hanya bergantung pada Tim Hantu Banyu karena proses pembersihan manual membutuhkan tenaga besar dan waktu yang panjang.

“Kami tidak bisa terlalu bergantung pada Tim Hantu Banyu karena pekerjaan mereka sifatnya manual dan membutuhkan tenaga besar,” tambahnya.

Karena itu, penggunaan alat berat dinilai penting agar proses pengerukan sedimentasi dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

Baca Juga:   Sculpture Pesut Mahakam, Ikon Baru Samarinda sebagai Pengingat Pelestarian Alam

Menurutnya, tantangan utama penanganan drainase di Samarinda terletak pada struktur tanah yang labil sehingga sedimentasi mudah kembali muncul meski saluran baru saja dibersihkan.

“Dua bulan setelah dibersihkan, sedimentasi bisa muncul lagi karena lumpur dan pasir terbawa saat hujan deras,” tutupnya.

Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky

BERITA POPULER