SAMARINDA – Musik jazz terdengar mengalun indah dari speaker yang berada di sudut rumah. Sore itu, beberapa orang terlihat memenuhi setiap kursi yang ada di Bhumi Coffee. Bercengkrama, bercerita, menikmati sore ditemani secangkir kopi.
Di sana, kami bertemu dengan Jerrianto, sang pemilik kedai. Ia nampak sibuk menekan mesin manual kopi, Rockpresso.
Rockpresso merek alat pembuat kopi espresso manual yang tidak menggunakan listrik. Benar-benar menggunakan tangan sebagai tenaga untuk menghasilkan espresso yang nikmat.
Jerrianto sibuk dengan pengunjung yang terus berdatangan. Uniknya, Bhumi Coffee tidak memiliki menu tetap. Setiap harinya, menu di Bhumi Coffee bisa saja berubah, sesuai preferensi baristanya. Sehingga para pengunjung bisa mendapatkan pengalaman yang tidak itu-itu saja.
Terletak di Sungai Keledang, Jalan APT Pranoto, Samarinda Seberang, nyatanya tidak menghilangkan kesan elegan dari kedai itu. Meski tidak berada di tengah kota, nyatanya, itulah suatu kelebihan dari kedai ini.
Sembari melihat Jerrianto mengolah espresso, kami berkesempatan untuk melihat-lihat suasana kedai. Karena tempatnya yang masuk di suatu gang, jadi ada ruang pepohonan yang rindang, serta tidak pula padat akan rumah-rumah. Kesan natural terlintas begitu nyaman.
Belum lagi kerikil-kerikil, tanaman hijau, serta lapangnya jarak antar setiap meja. Membuat siapa saja tidak terganggu oleh obrolan antar meja.
Jerrianto-pun selesai dengan pesanan, lalu ia menyempatkan diri untuk bercerita dengan Media Kaltim. Ia sosok lelaki yang ramah, suka mengobrol dan tidak susah untuk diajak bercanda.
“Kurang lebih sudah 6 bulan kedai ini buka,” kata Jerri sembari pula memberikan kopi Americano pesanan kami.
Sebenarnya kedai itu dibangun untuk dinikmati sendiri. Namun ia merasa sayang, dengan konsep yang ia bangun dan tempat senyaman itu, tidak bisa dinikmati banyak orang. Kemudian ia memberanikan diri membuka Bhumi Coffee.
Ternyata, antusiasme pengunjung luar biasa. Mereka merasa senang dengan adanya kedai Bhumi, tempat yang nyaman untuk merefresh pikiran mereka dari hiruk pikuk perkotaan. Meskipun pula, letaknya tidak jauh dari pusat kota Samarinda.
“Orang bertanya kenapa kami tidak menaruh plang, padahal di dalam gang. Sebenarnya supaya orang itu bisa berusaha mencari sendiri,” ujarnya sembari tertawa.
Nama Bhumi sendiri dipilih, sebagai presentasi dari tempat mencari rezeki, mencari nafkah. Terlebih juga konsep kedai hijaunya, menambah kesan natural.
“Biar orang yang mengerti atau sudah dengar kata bumi itu, kesannya sejuk adem,” imbuh Jerri.
Memang, siapapun yang datang ke kedai Bhumi, nuansa rindang menyambut mereka. Penamaan Bhumi dengan konsep yang disajikan, serupa kolaborasi yang meriah.
Soal menu, para pengunjung tidak perlu khawatir. Dengan kocek 20 ribu sampai 50 ribu, para pengunjung sudah bisa menikmati kopi yang disajikan. Namun juga jangan salah, Bhumi tidak hanya menyediakan kopi tetapi juga mocktail.
“Tapi mocktailnya kita bener-bener tanpa soda,” tegas Jerri.
Untuk kopinya, ada manual brew kemudian espresso base. Akan tetapi bagi siapapun yang menyukai kopi manis, Bhumi tidak menyediakannya. Bahkan Bhumi tidak menyediakan gula.
Jerri beralasan, hal itu ia lakukan agar pengunjung benar-benar menikmati kopi. Bukan hanya embel-embel kopi padahal bukan kopi murni. Inilah menjadi ciri khas lain dari kedai Bhumi. Pengunjung diajak untuk menikmati pahitnya, manisnya kopi, juga agar pengunjung merasakan sendiri manfaat dari minum kopi.
“Karena meja dan kursi yang kami sediakan terbatas, untuk sementara kami tidak menggunakan mesin. Kalau manual itu menurutku ada nilai tersendiri,” jelas Jerri tentang alasan mengapa tidak menggunakan mesin mahal di kedainya.
Selain kopi dan tempat, Jerri menekankan bahwa ia ingin memberikan ketenangan bagi para pengunjungnya. Dengan alasan itu pulalah, ia melarang pengunjungnya untuk memainkan alat musik, seperti gitar, yang dapat menggangu pengunjung lain.
Maka, musik-musik jazz yang menenangkan dipilih. Siapapun yang datang, bisa mendengar musik seperti Album Kind Of Blue dari Miles Davis, permainan piano ciamik Bill Evans, serta musisi jazz yang terkemuka.
“Supaya orang bisa merefresh juga kan, mungkin sudah terlalu riuh dari pekerjaan dan suasana kota. Kalau denger yang berisik lagi kan, jadinya mumet,” terang Jerri.
Sejauh kedai Bhumi buka, pengunjung berdatangan tidak hanya dari Kalimantan Timur. Beberapa dari Malang, hingga Sumatera. Yang dari penuturan Jerri, pengunjung itu sebenarnya bekerja di Kapal dan mencoba mencari kedai nyaman di Samarinda. Ketemulah dengan Bhumi Coffee.
Ke depannya, Jerri berharap Bhumi bisa melakukan improvisasi. Salah satunya adalah menyediakan bar khusus manual brew. Dengan itu, ia berharap dapat memberikan pengalaman lain untuk para pelanggan yang mampir.
Semakin malam, kedai Bhumi semakin ramai. Pengunjung datang dan pergi. Namun tetap nyaman karena tidak padat. Jerri-pun pamit dari wawancara, menyalakan api unggun di tengah-tengah kedai. Malam serasa khusyuk ditemani kopi.
Suara musik jazz dari Miles Davis menemani kami malam itu. Situasi terasa nyaman. Tidak salah bila Bhumi Coffee menjadi salah satu tempat untuk rehat sejenak dari riuhnya kesibukan kota Samarinda.
Pewarta : K. Irul Umam
Editor : Nicha R