spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Potensi Biodiesel, Inovasi Energi Terbarukan yang Butuh Optimalisasi

SAMARINDA – Mulai 1 Januari 2025, pemerintah resmi menerapkan penggunaan bahan bakar solar dengan campuran 40 persen bahan bakar nabati (B40) yang berbasis minyak sawit. Program ini diharapkan mampu menghemat devisa negara hingga Rp147 triliun. Bahkan, pengembangan menuju B100 terus dipertimbangkan sambil mengevaluasi dampaknya.

Pengamat Ekonomi dan Akademisi Universitas Mulawarman, Hairul Anwar, menyebutkan  biodiesel memiliki potensi besar sebagai solusi global.

“Biodiesel sumber energi terbarukan dan emisinya rendah, jadi bisa kita maksimalkan. Jadi Indonesia punya dua solusi internasional,” ujarnya melalui telepon WhatsApp kepada Media Kaltim pada Selasa (21/01/2025).

Bukan tanpa catatan, pengembangan bahan bakar nabati ini juga memiliki tantangannya tersendiri. Hairul mengatakan bahwa meskipun pemerintah berhasil sampai ke B100, tetapi kegunaannya patut dipertanyakan.

Sebagaimana mesin-mesin kendaraan masih terus menggunakan bahan bakar fosil seperti Pertalite dan Pertamax. Tentu saja, inovasi bio solar penting untuk memberikan langkah baru dalam penggunaan bahan bakar. Akan tetapi tanpa dibarengi inovasi mesin kendaraan, rasanya tetap percuma.

“Kalau sudah bahan bakarnya banyak (bio solar), terus siapa yang mau memakai?” serunya.

Baca Juga:   Di Depan Senator RI, Isran Dorong Turunan UU HKPD

Peran pemerintah terhadap aturan mesin musti perlu ditekankan pula. Guna menjadikan produk bio solar sebagai produk umum, tidak menjadi khusus saja. Sedangkan manfaat bio solar sangat layak dipertimbangkan, yaitu, untuk mengurangi polusi serta emisi gas, terlebih juga alternatif energi.

“Ada hilirnya yang dikejar, produksi dan penggunaan serta teknologinya. Hulunya juga dikejar untuk menggunakan bio solar,” katanya.

Apalagi sejauh ini, bio solar masih banyak dikeluhkan. Tentang istilah “Solar basi,” pembusukan karna daya tahan bahan bakar nabati yang belum cukup maksimal. Lantas perlu riset lebih jauh yang dilakukan agar tidak menghasilkan bahan bakar yang akhirnya merusak mesin.

Bio solar sebenarnya juga menawarkan harga murah, yang menjadi satu pertimbangan lainnya. Untuk masa depan, bio solar dapat jadi alternatif yang cukup menjanjikan sebelum pula kendaraan listrik merajai.

Untuk itu, Hairul menegaskan kepada pemerintah agar tidak menjadikan B40-B100 sebagai alat politik saja. Kemudian suatu waktu bisa mencari alternatif lain seperti listrik disaat Bio solar sendiri belum usai. “Jangan cuma jadi jargon terus ditinggal. Pemerintah harus punya roadmap kemana,” tegas Hairul.

Baca Juga:   Pendidikan Gratis Hingga S3, Praktisi Pendidikan Ingatkan Pendidikan di Kawasan 3T

Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Nicha R

BERITA POPULER