spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Jembatan Mahakam 1 Alami 22 Kali Tabrakan, Apakah Masih Aman Digunakan?

SAMARINDA – Di tengah hiruk-pikuk Kota Samarinda, Jembatan Mahakam 1 tetap berdiri tegak sebagai jalur utama yang menghubungkan pusat kota dengan Samarinda Seberang. Namun, jembatan yang telah berusia hampir 40 tahun ini kembali menjadi sorotan setelah insiden tabrakan kapal tongkang ke-22 terjadi pada 16 Februari 2025.

Meskipun telah beberapa kali diperbaiki, pertanyaan besar tetap muncul. Apakah Jembatan Mahakam 1 masih aman dilewati? Seberapa besar dampak tabrakan terhadap struktur jembatan yang selama ini menjadi tulang punggung transportasi di Samarinda?

Sedikit menengok sejarah pembangunan Jembatan Mahakam 1 yang mulai dibangun pada tahun 1983 dan diresmikan pada 2 Agustus 1986 oleh Presiden Soeharto.

Pembangunannya merupakan jawaban atas kebutuhan masyarakat pada waktu di Kalimantan Timur belum ada satupun jembatan penyeberangan sungai mahakam.

Karena jembatan adalah jalur penghubung yang lebih efektif dibandingkan feri penyeberangan yang sebelumnya menjadi satu-satunya opsi untuk melintasi Sungai Mahakam.

Jembatan Mahakam 1 dirancang dengan sistem rangka baja Hollandia Kloos dari Belanda yang diproduksi di dalam negeri.

Struktur utama jembatan berbentuk rangka segitiga yang tersusun dari 80 elemen baja, dengan panjang total 400 meter dan lebar 10 meter. Jembatan ini juga dilengkapi dengan jalur pejalan kaki di kedua sisinya.

Jembatan Mahakam I saat diresmikan oleh Presiden ke 2 Indonesia l, Soeharto langsung dibanjiri masyarakat. (Foto: SS Youtube)

Pada saat dibangun, jembatan ini menjadi salah satu proyek infrastruktur terbesar di Kalimantan Timur dengan biaya konstruksi sebesar Rp 7,2 miliar angka yang cukup besar untuk era 1980-an.

Dengan tinggi sekitar 5 meter dari permukaan aspal, jembatan ini dirancang untuk menahan beban lalu lintas berat dan kondisi lingkungan yang dinamis.

Namun, tantangan utama bagi Jembatan Mahakam 1 bukan hanya soal beban kendaraan, tetapi juga arus lalu lintas kapal di bawahnya.

Sungai Mahakam merupakan jalur utama bagi kapal-kapal pengangkut batu bara, kayu, dan hasil industri lainnya. Hal ini menjadi salah satu penyebab utama rentetan tabrakan kapal tongkang yang terus terjadi sepanjang sejarah jembatan ini.

Baca Juga:   Walikota Samarinda Andi Harun Berkomitmen Tertibkan Pom Mini Pasca Kebakaran

Tabrakan ke-22: Uji Ketahanan Jembatan

Insiden terbaru yang terjadi pada 16 Februari 2025 melibatkan kapal tongkang Indosukses 28 bermuatan kayu yang ditarik oleh tugboat MTS 28 milik.

Kapal milik PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra tersebut menghantam pilar 2 dan 3, yang langsung menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas jembatan.

Akibat kejadian ini, pemerintah setempat menutup akses lalu lintas di Jembatan Mahakam 1 selama selama beberapa jam untuk melakukan evaluasi kerusakan.

Pada 4 Maret 2025, tim ahli dari Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) Kementerian PUPR bersama Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Kaltim dan Dinas PUPR melakukan serangkaian uji ketahanan terhadap jembatan.

Salah satu pengujian dilakukan dengan menempatkan truk roda enam seberat 10 ton di atas jembatan guna mengukur respons strukturnya.

“Hasil uji coba ini masih dalam tahap analisis, tetapi secara umum struktur utama jembatan masih cukup kuat. Kami mengevaluasi apakah ada perubahan geometri akibat tabrakan terbaru,” ujar Prof. Priyo Suprobo, salah satu ahli yang terlibat dalam pengujian.

Keesokan harinya, hasil analisis menyatakan bahwa struktur utama jembatan masih aman.

Kerusakan hanya terjadi pada fender, yaitu struktur pelindung yang berfungsi menyerap energi benturan agar tidak langsung merusak pilar jembatan.

Mengapa Jembatan Mahakam 1 Sering Ditabrak Kapal?

Sejak pertama kali diresmikan, dari catatan media kaltim, Jembatan Mahakam 1 telah mengalami 22 kali tabrakan oleh kapal tongkang. Beberapa insiden yang paling menonjol antara lain:
– 30 September 2011: Lima tongkang batu bara berturut-turut menabrak pilar 3, menyebabkan retakan serius.
– 14 Februari 2018: Fender pengaman jembatan ditabrak oleh tongkang Capricorn 117 yang bermuatan kayu akasia.
– 28 April 2019: Tongkang penuh batang kayu menghantam fender penyangga jembatan, menimbulkan suara gesekan keras yang membuat panik pengendara di atasnya.
– 16 Februari 2025: Kapal tongkang Indosukses 28 milik PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra, menabrak pilar 2 dan 3, menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan hingga jembatan harus ditutup sementara selama investigasi kerusakan.

Baca Juga:   Dispora Kaltim Siapkan Dua Event Besar untuk Desember 2024: Pekan Olahraga Paralimpik Pelajar dan Festival Olahraga Tradisional

Faktor utama yang menyebabkan tingginya frekuensi tabrakan ini adalah arus bawah air Sungai Mahakam yang kuat dan cenderung berputar di sekitar pilar jembatan.

Kecepatan arus yang mencapai 0,420 meter per detik di sekitar pondasi tengah sering kali membuat kapal kehilangan kendali, terutama saat cuaca buruk atau jika nahkoda kurang waspada.

Selain itu, semakin padatnya lalu lintas kapal tongkang yang mengangkut batu bara dan kayu juga meningkatkan risiko kecelakaan.

Dengan ukuran kapal yang besar dan berat muatan yang mencapai ribuan ton, setiap tabrakan berpotensi memberikan dampak signifikan pada struktur jembatan.

Perusahaan Bersedia Bertanggung Jawab

Setelah insiden tabrakan ke-22 ini, pihak perusahaan pelayaran akhirnya bersedia bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi.

Kepala BBPJN Kaltim, Hendro Satrio MK, memperkirakan pembangunan kembali fender yang roboh memerlukan anggaran sekitar Rp35 miliar.

“Itu terdiri dari biaya untuk mengangkat bangkai fender dan membangun kembali dua fender di lokasi yang sama,” kata Hendro beberapa waktu yang lalu.

Hendro juga mengonfirmasi bahwa pihak PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra sudah menyatakan kesediaan untuk bertanggung jawab atas pembangunan ulang fender yang rusak.

“Mereka masih akan mengkalkulasi nilai pembangunannya, karena Rp35 miliar itu masih perkiraan awal dari BBPJN Kaltim. Namun secara umum, mereka siap bertanggung jawab,” tegas Hendro.

Langkah ini tentu menjadi kabar baik bagi masyarakat dan pengguna jembatan, mengingat fender memiliki peran penting dalam melindungi struktur utama jembatan dari benturan kapal.

 

Jembatan Mahakam I Tetap Aman

Meskipun hasil uji ketahanan terbaru menyatakan bahwa Jembatan Mahakam 1 masih aman, kekhawatiran tetap ada. Menurut Plt Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Timur, Irhamsyah, upaya utama yang perlu dilakukan saat ini adalah memperbaiki dan memperkuat fender jembatan agar mampu menyerap benturan lebih efektif.

Baca Juga:   Anak Buah Ngaku, 4 Kawanan Pengedar Sabu diringkus

“Aman? Aman. Rekomendasi dari BBPJN dan KSOP, cukup fendernya yang harus segera dibangun. Untuk jalur pelayaran masih dinyatakan aman,” jelasnya.

Setelah mengalami 22 kali tabrakan, Jembatan Mahakam 1 masih berdiri tegak dan dinyatakan aman untuk digunakan sebagai jalur utama menyeberang Sungai Mahakam dari Samarinda Seberang Ke Samarinda Kota.

Struktur utamanya masih mampu menopang beban lalu lintas, meskipun tingkat ketahanannya diperkirakan sudah berkurang sekitar 30 persen dari kondisi awalnya.

“Untuk ketahanan beban Jembatan dengan umur jembatan 70 persen masih bisa, dengan kembali ke awal mobil besar lewat Jembatan Mahulu,” tambah Irhamsyah.

Namun, dengan usia yang hampir mencapai 40 tahun dan potensi tabrakan di masa depan yang masih tinggi, perawatan rutin dan peningkatan sistem keamanan menjadi kunci utama agar jembatan ini tetap aman.

Meskipun telah ada jembatan alternatif seperti Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), Jembatan Kembar (Mahakam IV) dan Jembatan Mahkota (Jembatan Achmad Amins), Jembatan Mahakam 1 tetap menjadi jalur vital bagi masyarakat Samarinda Seberang yang ingin ke jantung Kota Samarinda.

Dengan sejarah panjangnya yang penuh tantangan, jembatan ini bukan hanya menjadi simbol konektivitas, tetapi juga cerminan dari ketahanan infrastruktur di Kalimantan Timur.

Jembatan Mahakam 1 akan selalu dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan Samarinda menuju masa depan. Jembatan ini bukan sekadar struktur baja yang menghubungkan dua sisi kota.

Ia adalah saksi bisu dari berbagai peristiwa, tantangan, dan perubahan yang telah terjadi selama hampir empat dekade. Sejarahnya adalah cerminan dari tekad dan semangat pembangunan yang tak pernah padam.

Penulis: Hanafi
Editor: Nicha R

BERITA POPULER