Foto: ilustrasi kolam retensi Ist. (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA – Bencana banjir yang melanda Kota Samarinda di akhir Januari 2025, merupakan salah satu banjir dengan genangan air terluas dan berdampak besar pada masyarakat selama 4 tahun terakhir.
Selain intensitas dan curah hujan yang tinggi, limpahan air dari Tanah Datar Kabupaten Kutai Kartanegara turun serta berperan tingginya banjir di wilayah Kecamatan Samarinda Utara.
Dalam sambutan yang disampaikan di kunjungan Reses Persidangan 1 Tahun 2025 oleh Sekretaris Komisi 3 DPRD Kota Samarinda, Arie Wibowo mengungkapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda sedang dalam perencanaan untuk pembuatan kolam retensi seluas 70 Hektar di daerah Pampang.
“Nanti, kolam ini akan menampung air dengan jumlah besar sehingga bisa menumpas banjir dari arah Tanah Merah dan Tanah Datar,” jelasnya.
Arie juga menambahkan, proyek kolam retensi ini sedang dalam proses pembebasan lahan sehingga masih memerlukan waktu antara Pemkot dan masyarakat sekitar untuk bernegosiasi.
“Ada informasi menarik terkait proses pembebasan lahan, yaitu harga tanah yang dibebaskan meningkat setelah masyarakat mengetahui rencana proyek ini,” katanya.
Lebih lanjut, Ia menyoroti harga tanah yang melambung tinggi dari harga semula. Menurutnya ini menjadi salah satu kendala pembebasan lahan oleh pemerintah.
“Kita ingin proyek ini segera dilakukan, pemangku kepentingan harus duduk bersama untuk menuntaskan masalah banjir, sehingga proyek Samarinda bebas banjir cepat terwujud,” tutupnya.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky