Foto: Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan (posisi tengah) berdampingan dengan PJ Gubernur Kaltim, Akmal Malik dan Wakil Gubernur Terpilih, Seno Aji saat diwawancarai awak media (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA – Sejak dilaksanakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Samarinda, berbagai tanggapan dari berbagai pihak, tak terkecuali keluhan dari pengelola kantin atas menurunnya omzet penjualan. Pihak kantin, menyerukan untuk dapat ikut serta berpartisipasi dalam program pemerintah.
Menanggapi hal itu, Badan Gizi Nasional (BGN) membuka peluang kerja sama sebagai mitra dengan berbagai pihak dalam penyediaan dan pengelolan makanan, termasuk menggandeng kantin sekolah sebagai mitra program MBG.
Tigor Pangaribuan, Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, menegaskan bahwa pihaknya membuka peluang untuk siapa saja yang ingin menjadi mitra, terkhusus kantin sekolah.
“BGN akan menggandeng kantin sekolah dalam penyediaan makanan, kami berusaha meminimalisir dampak atas pelaksanaan program MBG,” ujarnya.
Selain itu, ia mengungkapkan keinginannya, melibatkan pihak sekolah dengan memperbesar kantin sekolah seperti yang terjadi di Cimahi dan Semarang. Menurutnya, penerapan mekanisme ini, dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja dan pengelola kantin sekoh juga dapat terlibat.
“Kalau sistem ini bisa diterapkan, tentu akan menjadi sangat baik. Tantangan selanjutnya yang kita hadapi ialah, bagaimana bisa memasok bahan pangan untuk murid dalam satu hari,” ucapnya.
Komponen terpenting dalam penyelenggaraan Program MBG selain anggaran ialah, penyediaan bahan untuk pengelolaan makan. Mengingat, petani di Kaltim masih belum bisa memasok sayur-sayuran dalam jumlah besar untuk menyongsong program MBG.
“Perlu 300 kg sayur untuk program ini dalam sehari, ini menjadi sorotan kami untuk mendapatkan bahan-bahan dengan jumlah besar,” tuturnya.
Terkait, pemberian susu yang tidak dilakukan setiap hari. Pihaknya, mengatakan bahwa susu bukan merupakan komponen wajib dalam MBG.
“Kita akan usahakan kedepan, bagaimana cara agar pemberian susu bisa dilakukan lebih dari 2 kali. Terlebih, ada pemasok susu lokal, akan mempermudah kita untuk memastikan susu ini bisa diberikan lebih sering,” demikian Tigor.
Penulis: Hadi
Editor: Andi Desky