SAMARINDA – Seorang bocah laki-laki dilaporkan tenggelam saat berenang di kolam bekas tambang batu bara di kawasan Perumahan Talang Sari, Jalan Rimbauan, RT 08, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara, Selasa (13/10/2026) sekitar pukul 13.30 Wita.
Hingga Selasa sore, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan masih melakukan pencarian di lokasi kejadian. Korban dilaporkan hilang setelah berenang bersama lima orang rekannya.
Kapolsek Sungai Pinang, AKP Aksarudin Adam, mengatakan personel kepolisian langsung menuju lokasi setelah menerima laporan dari warga. Proses pencarian dilakukan bersama unsur SAR dan relawan untuk menemukan korban.
“Saat ini tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI/Polri, serta relawan tengah melakukan upaya pencarian. Informasi dari teman-teman korban, salah satu dari mereka hilang dan tenggelam di lokasi ini, yang mana informasi warga sekitar merupakan eks lubang tambang batu bara,” terang AKP Aksarudin Adam.
Ketua RT 08, Robby, membenarkan bahwa kolam bekas tambang tersebut kerap didatangi anak-anak untuk bermain dan berenang, terutama saat akhir pekan maupun libur sekolah.
Menurutnya, warga dan pengurus RT telah beberapa kali menegur anak-anak yang berenang di lokasi tersebut. Namun, teguran itu tidak selalu dipatuhi.
“Sejauh ini sering anak-anak ke situ. Jadi mereka itu kalau masa liburan, Sabtu dan Minggu, hadir di sini. Sering kita tegur. Tapi kalau sudah ditegur, paling mereka ngumpet di mana, nanti kalau kita pergi kembali lagi,” ujar Robby saat ditemui di lokasi kejadian.

Ia mengatakan anak-anak yang biasa berenang di kolam tersebut bukan berasal dari lingkungan RT 08. Berdasarkan informasi yang diterimanya, korban diduga merupakan warga Talang Sari RT 02.
“Bukan warga kita, malah warga luar. Awalnya saya kirim dari Lempake, karena sehari-harinya mereka lewat depan. Jarang lewat belakang. Informasi terakhir korban warga dari Talang Sari RT 02,” tambahnya.
Robby mengungkapkan, papan peringatan larangan berenang pernah dipasang di sekitar kolam bekas tambang tersebut. Namun, papan itu kini sudah tidak ada karena kondisinya lapuk.
“Dulunya ada papan peringatan, cuma karena sudah dimakan waktu, sudah lapuk lah,” jelasnya.
Menurut Robby, lubang bekas tambang batu bara tersebut diperkirakan sudah ada sejak sekitar 2020. Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui secara rinci kronologi kejadian sebelum korban dilaporkan tenggelam.
Peristiwa ini kembali menyoroti risiko keselamatan di kolam bekas tambang yang masih dapat diakses masyarakat, khususnya anak-anak. Keberadaan lubang dengan kondisi kedalaman dan dasar yang belum diketahui secara pasti dapat membahayakan siapa pun yang berenang tanpa pengawasan.
Masyarakat diimbau menjauhkan anak-anak dari kolam bekas tambang dan lokasi perairan yang tidak memiliki pengamanan memadai.
Hingga berita ini ditulis, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap korban. Perkembangan mengenai hasil pencarian menunggu informasi resmi dari petugas di lapangan.
Pewarta: Dimas
Editor: Nicha R



