SAMARINDA – Harga-harga di Kalimantan Timur kian menanjak. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau “year on year” (y-on-y) Kaltim pada Agustus 2026, mencapai 3,83 persen.
Angka ini bukan sekadar kenaikan biasa. Jika dibandingkan Agustus 2025 yang berada di level 1,79 persen, inflasi Kaltim kini melonjak lebih dari dua kali lipat. Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim juga bergerak dari 108,54 pada Agustus 2025 menjadi 112,70 pada Agustus 2026.
Yang menarik, Samarinda menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi di Kaltim. BPS mencatat inflasi y-on-y Kota Samarinda mencapai 4,03 persen dengan IHK 112,71. Sementara yang terendah terjadi di Kabupaten Berau sebesar 3,31 persen.
Di antara empat daerah yang menjadi cakupan penghitungan IHK Kaltim, Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat inflasi 3,68 persen dan Balikpapan 3,79 persen.
Secara bulanan, inflasi Kaltim pada Agustus 2026 tercatat 0,10 persen. Sedangkan inflasi sejak awal tahun atau “year to date” (y-to-d) mencapai 2,64 persen.
Namun, di balik angka 3,83 persen itu, ada sejumlah komponen yang membuat harga-harga terus terdorong. Transportasi menjadi salah satu penyumbang terbesar. Kelompok ini mengalami inflasi tahunan mencapai 10,55 persen dan memberikan andil 1,35 persen terhadap inflasi Kaltim.
Angka tersebut terutama didorong oleh angkutan udara yang memberikan andil 0,55 persen dan bensin sebesar 0,54 persen. Berikutnya pelumas atau oli mesin 0,09 persen, biaya pemeliharaan atau servis 0,06 persen, serta sepeda motor 0,04 persen.
Dengan kata lain, ongkos bergerak dan biaya menggunakan kendaraan menjadi salah satu tekanan paling terasa dalam inflasi tahunan Kaltim.
Tekanan berikutnya datang dari kelompok makanan, minuman dan tembakau. Inflasi kelompok ini mencapai 4,06 persen dengan andil 1,22 persen.
Daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang paling besar memberikan tekanan, dengan andil 0,24 persen. Disusul sigaret kretek mesin 0,16 persen, ikan layang atau ikan benggol 0,13 persen, minyak goreng dan ikan tongkol masing-masing 0,09 persen. Beras dan cabai rawit juga ikut menyumbang, masing-masing 0,08 persen.
Di sisi lain, tidak semua komoditas bergerak naik. Bawang merah justru memberikan andil deflasi sebesar 0,16 persen, disusul tomat 0,04 persen dan ikan gabus 0,03 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi y-on-y sebesar 9,96 persen. Kelompok ini memberikan andil 0,69 persen terhadap inflasi Kaltim.
Ada pula emas. Emas perhiasan menjadi penyumbang dominan dengan andil 0,57 persen. Jauh lebih besar dibandingkan komoditas lain dalam kelompok yang sama. BPS juga mencatat subkelompok perawatan pribadi lainnya mengalami inflasi hingga 25,02 persen.
Sementara itu, biaya pendidikan juga ikut bergerak naik. Kelompok pendidikan mengalami inflasi 2,23 persen dan memberikan andil 0,10 persen.
Komoditas sekolah dasar menjadi penyumbang terbesar dari kelompok ini, dengan andil 0,06 persen. Jika ditarik ke belakang, inflasi Agustus 2026 menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya.
Pada Agustus 2024, inflasi y-on-y Kaltim tercatat 2,13 persen. Setahun kemudian turun menjadi 1,79 persen. Namun pada Agustus 2026, angkanya melonjak menjadi 3,83 persen.
Artinya, dalam rentang dua tahun, tekanan inflasi Kaltim kembali menguat secara signifikan. Samarinda menjadi titik dengan angka tertinggi. Dengan inflasi 4,03 persen, Samarinda berada di atas rata-rata provinsi 3,83 persen. Balikpapan berada di angka 3,79 persen, Penajam Paser Utara 3,68 persen, dan Berau 3,31 persen.
Secara bulanan, Samarinda mencatat inflasi 0,06 persen, sementara Berau 0,46 persen dan Penajam Paser Utara 0,52 persen. Balikpapan justru mengalami deflasi bulanan sebesar 0,03 persen.
BPS merangkum sejumlah komoditas yang dominan memberikan andil inflasi tahunan Kaltim. Di antaranya emas perhiasan, angkutan udara, bensin, daging ayam ras, sigaret kretek mesin, ikan layang, minyak goreng, pelumas atau oli mesin, ikan tongkol, beras, cabai rawit hingga sewa rumah.
Sementara komoditas yang menahan laju inflasi antara lain bawang merah, tomat, ikan gabus, bahan bakar rumah tangga, tas sekolah, parfum, tahu mentah dan bawang putih.
Dengan inflasi 3,83 persen tersebut, persoalannya bukan semata harga satu-dua komoditas. Tekanan datang dari berbagai sisi: mobilitas, bahan bakar, pangan, pendidikan hingga kebutuhan personal.
Dan untuk Samarinda, angka 4,03 persen menunjukkan tekanan harga yang justru berada di atas rata-rata Kaltim.
Pewarta: K Irul Umam
Editor: Muhammad Rafi’i



