QRIS Jadi Penggerak Utama Pertumbuhan Pembayaran Nontunai

SAMARINDA – Penggunaan transaksi digital di Kalimantan Timur (Kaltim) terus berkembang. Bank Indonesia (BI) menilai Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi salah satu instrumen yang semakin penting bagi pelaku ekonomi. Baik dalam mendorong kemudahan, efisiensi, dan keamanan transaksi masyarakat.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, menjelaskan perkembangan sistem pembayaran merupakan bagian dari upaya BI menyediakan fasilitas pembayaran yang mudah dan efisien bagi masyarakat.

Menurutnya, sistem pembayaran telah mengalami evolusi. Mulai dari penggunaan uang tunai, kartu kredit dan kartu debit, hingga pembayaran berbasis telepon seluler seperti QRIS.

“QRIS ini sangat memudahkan. Orang tidak perlu lagi mengeluarkan uang tunai dari dompet. Dari sisi kepraktisan tentunya sangat praktis,” ujarnya.

Selain praktis, penggunaan QRIS juga dinilai memberikan aspek keamanan dan pencatatan transaksi yang lebih baik. Setiap pembayaran yang dilakukan melalui sistem digital tercatat, dalam sistem sehingga transaksi lebih mudah ditelusuri.

Hal ini dinilai penting, termasuk bagi pemerintah daerah dalam mengoptimalkan penerimaan daerah. Digitalisasi pembayaran, misalnya pada sektor parkir dan layanan publik, dapat membantu memastikan transaksi tercatat secara otomatis.

“Kalau pembayaran dilakukan secara elektronik, semuanya tercatat. Ada pembayaran tercatat langsung dan uangnya masuk melalui sistem,” jelasnya.

Transaksi QRIS Kaltim Capai Rp2,37 Triliun

Berdasarkan data BI Kantor Perwakilan Provinsi Kaltim8 dalam SI PALING SP edisi Agustus 2026, nominal transaksi QRIS di Kaltim pada Juli 2026 mencapai Rp2,37 triliun.

Baca Juga:   Cegah Kesalahan Masalah Berulang, Pemprov Kaltim Pastikan GratisPol Dibenahi

Angka tersebut menyumbang sekitar 44 persen transaksi QRIS di wilayah Kalimantan, meskipun secara tahunan nominal transaksi tercatat turun sekitar 2 persen.

Di sisi pengguna, jumlah pengguna QRIS di Kaltim telah mencapai sekitar 975 ribu pengguna, tumbuh 19 persen secara tahunan (yoy) dengan kontribusi 29 persen terhadap wilayah Kalimantan.

Sementara jumlah merchant QRIS mencapai 902 ribu merchant, tumbuh 35 persen (yoy) dan menyumbang 26 persen terhadap wilayah Kalimantan.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan QRIS tidak hanya digunakan oleh pelaku usaha besar, tetapi mulai menjangkau sektor usaha mikro dan pedagang kecil.

Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim mencontohkan, pedagang makanan hingga pelaku UMKM kini semakin banyak yang menggunakan QRIS untuk menerima pembayaran.

“Sekarang sampai pedagang kecil, UMKM mikro juga menggunakan. Misalnya pedagang yang berjualan pagi, ketika pembayaran masuk secara real time, uangnya bisa langsung digunakan untuk membeli bahan atau modal berikutnya,” katanya.

Menurutnya, manfaat tersebut akan semakin terasa apabila terbentuk ekosistem digital yang lebih luas. Tidak hanya pedagang yang menggunakan QRIS, tetapi pemasok, penyedia bahan baku, hingga berbagai kebutuhan usaha juga dapat menggunakan sistem pembayaran digital.

Balikpapan Jadi Daerah dengan Transaksi QRIS Terbesar

Dari sisi wilayah, Kota Balikpapan menjadi daerah dengan transaksi QRIS terbesar di Kaltim pada Juli 2026. Balikpapan mencatat pangsa transaksi sebesar 35 persen, disusul Samarinda sebesar 33 persen dan Kutai Kartanegara sebesar 8 persen.

Baca Juga:   Wakil Ketua DPRD Kaltim Sepakat Tindaklanjut Usulan Hak Angket Dari Demonstran

Secara nominal, transaksi QRIS di Balikpapan mencapai sekitar Rp866 miliar, Samarinda Rp786 miliar, dan Kutai Kartanegara sekitar Rp155 miliar.

Transaksi juga tercatat di daerah lainnya, yakni Bontang sekitar Rp132 miliar, Kutai Timur Rp124 miliar, Berau Rp115 miliar, Paser Rp70 miliar, Penajam Paser Utara Rp63 miliar, Kutai Barat Rp58 miliar, serta Mahakam Ulu sekitar Rp2,9 miliar.

Data tersebut menunjukkan penggunaan pembayaran digital mulai menyebar ke berbagai daerah, tidak hanya terkonsentrasi di pusat perekonomian seperti Samarinda dan Balikpapan.

Pembayaran Semakin Cepat dan Real Time

BI juga terus mendorong agar sistem pembayaran semakin cepat. Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim menjelaskan, transaksi QRIS saat ini dapat diproses secara real time, sehingga dana dapat langsung diterima merchant setelah pembayaran dilakukan.

Perkembangan tersebut berbeda dengan sistem pembayaran elektronik pada masa awal, ketika dana yang dibayarkan kepada merchant terkadang baru masuk ke rekening pada waktu berikutnya.

“Sekarang langsung. Begitu dibayar dan QRIS di-scan, transaksinya langsung masuk ke merchant,” ujarnya.

Menurutnya, kecepatan tersebut memberikan manfaat besar bagi pelaku UMKM karena perputaran modal menjadi lebih cepat.

BI juga terus mendorong inovasi agar sistem pembayaran semakin mudah digunakan masyarakat. Perkembangan tersebut bahkan telah melahirkan berbagai inovasi baru, seperti QRIS dengan fitur suara yang memberikan pemberitahuan ketika transaksi berhasil.

Baca Juga:   Penerima Beasiswa Kaltim Menurun, Ini Penyebabnya

“BI akan selalu mencari alternatif apa yang membuat masyarakat lebih mudah, lebih nyaman, sekaligus lebih aman ketika melakukan pembayaran,” katanya.

QRIS dan Masa Depan Ekonomi Digital

Pertumbuhan QRIS juga tidak terlepas dari meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap transaksi digital. Menurut BI, semakin banyak masyarakat menggunakan QRIS, semakin terbentuk pula ekosistem pembayaran nontunai di berbagai sektor.

BI juga menekankan bahwa tugas utamanya bukan mengambil keuntungan dari transaksi tersebut, melainkan memfasilitasi dan menjaga stabilitas sistem pembayaran agar berjalan aman, lancar dan andal.

Dalam sistem pembayaran QRIS terdapat mekanisme biaya layanan atau Merchant Discount Rate (MDR) yang digunakan untuk mendukung ekosistem sistem pembayaran.

Besarannya relatif kecil dan mekanisme tersebut melibatkan penyedia jasa pembayaran serta pihak-pihak yang mendukung infrastruktur pembayaran.

Ke depan, sistem pembayaran diperkirakan terus mengalami evolusi. Setelah masyarakat beralih dari uang tunai ke kartu dan kemudian pembayaran digital, BI juga tengah mempersiapkan perkembangan sistem pembayaran menuju era yang semakin digital, termasuk pengembangan Rupiah Digital.

“Evolusi uang dan sistem pembayaran akan terus berjalan. Kita di Bank Indonesia sebagai bagian dari sistem pembayaran juga harus mengikuti perkembangan zaman,” pungkasnya.

Penulis: Hanafi
Editor: Muhammad Rafi’i

BERITA POPULER