Foto: Diskusi Publik oleh Forum Intelektual Muda di Bagios Caffe. (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA — Peringatan Hari Kartini dimanfaatkan Forum Intelektual Muda bersama KOPRI PKC Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menggelar diskusi publik yang mengangkat peran perempuan dalam dinamika demokrasi dan pembangunan daerah, khususnya di tengah hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kegiatan yang berlangsung Selasa malam tersebut dikemas dalam Focus Group Discussion (FGD) dan debat terbuka, menghadirkan beragam perspektif dari tokoh intelektual, praktisi hukum, hingga aktivis perempuan.
Co-Founder Forum Intelektual Muda, Sutisna, menilai bahwa maraknya ruang diskusi di Kalimantan Timur menjadi indikator meningkatnya kesadaran kritis masyarakat.
Menulis
“Apalagi saat ini Kaltim sedang banyak dilirik dengan hadirnya IKN. Oleh karena itu, apapun dinamika yang hadir juga harus disikapi dengan baik.”
Ia menegaskan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat kajian intelektual dalam merespons berbagai perubahan sosial yang terjadi.
Dalam pemaparannya, Bambang Widjayanto menekankan pentingnya literasi sebagai fondasi perubahan sosial, dengan mencontohkan perjuangan Raden Ajeng Kartini.
Menulis
“Kita bisa melihat bagaimana seorang Kartini mampu membongkar sebuah sistem yang feodal pada masanya hanya melalui tulisan-tulisannya. Fondasi peradaban itu dibangun dari membaca dan menulis.” terangnya.
Sementara itu, praktisi hukum Rusdiono menyoroti semakin terbukanya ruang bagi perempuan di Kaltim, termasuk dalam sektor politik dan pemerintahan. Ia mendorong perempuan untuk berani mengambil peran strategis.
Di sisi lain, aktivis perempuan Yovanda Noni menekankan bahwa makna emansipasi saat ini harus dimaknai lebih luas, tidak hanya soal kesetaraan, tetapi juga kepemimpinan.
Menulis
“Kartini hari ini tidak lagi sebatas menuntut kesetaraan, melainkan bagaimana perempuan mampu memimpin dan berani mengambil ruang-ruang kekuasaan.” tutupnya.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



