SAMARINDA — Manajemen RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda akhirnya buka suara terkait kasus bayi berusia tiga bulan yang mengalami luka dan pembengkakan pada tangan usai menjalani perawatan di Ruang Melati.
Pihak rumah sakit menegaskan seluruh tindakan medis telah dilakukan sesuai prosedur operasional standar (SOP), sekaligus membantah berbagai informasi yang beredar di media sosial.
Wakil Direktur Penunjang RSUD AWS, Mazniati, menyatakan hasil penelusuran internal menunjukkan tidak ditemukan pelanggaran prosedur dalam penanganan pasien tersebut.
Ia menilai persoalan yang terjadi lebih disebabkan adanya kesenjangan komunikasi antara tenaga medis dan keluarga pasien.
“Semua tindakan sudah sesuai prosedur. Edukasi juga sudah diberikan, tetapi memang ada gap dengan pihak keluarga pasien. Informasi yang tidak sesuai di media sosial sudah kami luruskan dan akan kami bantah,” ujar Mazniati kepada awak media.
Menurutnya, rumah sakit telah melakukan audit internal melalui komite yang berada langsung di bawah direktur guna menjaga independensi pemeriksaan kasus.
Ia memastikan tim audit diisi tenaga profesional yang memiliki kompetensi dan keahlian sesuai bidangnya.
“Komite itu langsung di bawah direktur, sehingga independensinya terjaga. Anggotanya orang-orang yang diakui keahliannya,” katanya.
Bantah Dugaan Anak Magang
Mazniati juga menepis dugaan bahwa tindakan pemasangan infus dilakukan oleh tenaga magang, sebagaimana sempat ramai diperbincangkan.
Ia menegaskan, saat kejadian tidak ada mahasiswa magang yang bertugas menangani pasien.
“Sudah jelas, tidak ada anak magang. Bahkan tiga bulan sebelum kejadian hingga akhir tahun memang tidak ada anak magang di unit tersebut,” tegasnya.
Ia menambahkan, apabila terdapat peserta magang, seluruh tindakan medis tetap harus berada dalam pendampingan tenaga kesehatan profesional.
“Keterangan dari perawat maupun DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pasien) menyatakan semua sudah sesuai SOP,” lanjutnya.
Bayi Akan Jalani Operasi Skin Graft
Sebagai bagian dari penanganan lanjutan, bayi tersebut direncanakan menjalani operasi skin graft atau pencangkokan kulit guna mempercepat pertumbuhan jaringan sehat pada area luka. Prosedur tersebut akan ditangani dokter bedah plastik subspesialis vaskular.
“Tujuannya mempercepat penyembuhan, jaringan kulit sehat akan ditempelkan di area luka. Kami akan memberikan yang terbaik,” ucap Mazniati.
Ia mengakui setiap tindakan medis memiliki risiko, termasuk kemungkinan alergi obat atau pembiusan. Namun, seluruh risiko disebut telah diantisipasi sesuai standar medis.
“Semua tindakan pasti ada risiko medis. Tapi semuanya sudah diperhitungkan dan diantisipasi,” katanya.
Imbau Keluarga Pasien Pahami Edukasi Medis
Dalam kesempatan itu, Mazniati juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan instruksi medis setelah pasien pulang dari rumah sakit, termasuk jadwal kontrol yang telah ditentukan.
Ia menyebut edukasi sebenarnya telah diberikan kepada keluarga pasien, namun terjadi miskomunikasi karena informasi diterima oleh suami pasien, sementara yang menjalani kontrol adalah ibu bayi.
“Surat kontrol itu penting dibaca. Edukasi sudah disampaikan, tapi memang ada miskomunikasi di keluarga,” ujarnya.
Evaluasi Diakui, Tapi Detail Kasus Lama Dihindari
Saat disinggung soal sejumlah kasus pelayanan anak yang sebelumnya juga menuai sorotan publik, Mazniati menyatakan rumah sakit selalu melakukan evaluasi setiap terjadi tindakan medis.
“Setiap tindakan pasti ada evaluasi dan update SOP. Tapi untuk kasus sebelumnya saya tidak bisa menyampaikan detail karena harus sesuai kompetensi,” katanya.
Ia menegaskan tenaga kesehatan di RSUD AWS bekerja secara profesional dan tidak pernah memiliki niat mencelakakan pasien.
“Bagi kami, kebahagiaan terbesar adalah pasien pulang dalam keadaan sehat dan selamat,” tutupnya.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky
Pembaca Setia Radar Samarinda!
Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Samarinda? Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:



