Menjemput Berkah Ramadan dari Aroma Kembang Setaman di TPU Abul Hasan

Foto: Penjual kembang setaman di TPU Abul Hasan, Samarinda. (Hadi Winata/Radar Samarinda)

SAMARINDA – Aroma bunga rampai dan daun pandan menyeruak lembut di pintu masuk TPU Muslimin Jalan Abul Hasan, Samarinda.

Menjelang Ramadan, kawasan pemakaman itu tak hanya dipenuhi peziarah, tetapi juga denyut ekonomi kecil yang hidup dari tradisi tahunan: ziarah kubur.

Deretan lapak bunga setaman berdiri rapi di depan gerbang. Para pedagang musiman tampak sibuk menimbang, mengikat, dan menyusun bunga tabur untuk para peziarah yang datang silih berganti sejak pagi.

Di antara mereka, Tiara (46) terlihat cekatan melayani pembeli dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

Bagi Tiara, momen jelang puasa bukan sekadar rutinitas religius masyarakat, melainkan waktu panen rezeki yang selalu dinanti. Sejak lima hari terakhir, lapak kecilnya nyaris tak pernah sepi.

“Kalau sudah dekat Ramadan begini, ramai sekali. Jualan bunga itu setahun sekali saja. Hari biasa paling cuma satu dua orang,” ujarnya sambil menata jualanya.

TPU Abul Hasan bukan tempat asing bagi Tiara. Lokasi itu sudah seperti halaman rumah sendiri.

Baca Juga:   Samarinda Siap Tambah Anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis

Sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, ia sudah akrab dengan dunia jual beli bunga, mengikuti sang ibu berdagang di tempat yang sama.

“Dari kecil sudah di sini. Lapak ini juga milik sendiri, dulu dibeli keluarga,” kenangnya sambil tersenyum.

Di hari-hari biasa, Tiara adalah ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak. Suaminya bekerja sebagai penjaga malam sekaligus petugas kebersihan di sebuah kafe.

Namun ketika musim ziarah tiba, menjelang Ramadan dan Idulfitri, Tiara kembali menggelar dagangan bunga setaman.

Meski hanya bersifat musiman, hasilnya cukup signifikan. Dalam sehari, Tiara bisa mengantongi keuntungan bersih hingga Rp500 ribu, terutama dari penjualan bunga tabur dan air mawar yang paling diminati peziarah.

Ia menjual bunga rampai seharga Rp25 ribu per ikat, kembang tabur Rp10 ribu untuk tiga bungkus, serta air mawar Rp3 ribu per botol atau Rp5 ribu untuk dua botol. Seluruh bahan baku diperolehnya dari Pasar Sungai Dama, Samarinda.

“Ramainya biasanya pagi dan sore. Pendapatan bisa Rp500 ribu, kadang lebih,” tuturnya.

Baca Juga:   Keseruan Mercure & Ibis Media Gathering; Ada Games, Nyanyi Bersama, hingga Doorprize Gadget

Setiap hari, Tiara mulai membuka lapak sejak pukul 07.00 Wita hingga 19.00 Wita. Ia memperkirakan puncak keramaian terjadi tepat sehari sebelum Ramadan dimulai.

“Hari ini biasanya paling ramai. Besok sudah puasa. Habis ini nanti buka lagi menjelang Lebaran,” katanya.

Di tengah terik dan peluh yang membasahi dahi, Tiara tetap setia melayani pembeli. Setiap plastik bunga yang berpindah tangan, baginya, adalah simbol berkah yang datang bersamaan dengan datangnya bulan suci.

“Alhamdulillah, menjelang Ramadan dan seminggu sebelum Lebaran itu pasti ramai. Tapi yang paling terasa memang saat mau puasa seperti sekarang,” ucapnya pelan.

Di TPU Abul Hasan, tradisi ziarah tak hanya menghadirkan doa untuk yang telah tiada, tetapi juga menghidupkan harapan dan penghidupan bagi mereka yang menggantungkan rezeki dari wangi kembang setaman.

Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky

BERITA POPULER