Hasil TKA Disorot DPRD, Pendidikan Kaltim Diminta Berbenah

SAMARINDA — Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) mengungkap capaian akademik peserta didik di Kaltim masih tergolong rendah, terutama pada mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Temuan ini menjadi sorotan serius DPRD Kaltim, yang menilai perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.

Berdasarkan data rerata nilai mata pelajaran wajib per provinsi, Kaltim mencatat nilai Bahasa Indonesia sebesar 57,79, Matematika 36,37, dan Bahasa Inggris 25,91. Capaian ini menunjukkan ketimpangan yang cukup tajam antara kemampuan literasi bahasa dengan penguasaan numerasi dan bahasa asing siswa.

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Damayanti, menilai hasil TKA tersebut sebagai alarm bagi dunia pendidikan daerah. Menurutnya, penurunan kemampuan akademik tidak terjadi pada satu jenjang saja, tetapi hampir merata dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah.

“Matematika dan Bahasa Inggris terlihat sangat rendah. Ini harus menjadi pertanyaan bersama. Apakah nilai yang selama ini diberikan benar-benar mencerminkan kemampuan anak, atau ada persoalan lain di baliknya,” ujar Damayanti saat diwawancarai, Jumat (9/1/2026).

Baca Juga:   Hari Pers Nasional, Kaltim Darurat Intimidasi

Ia menjelaskan, hasil TKA justru menampilkan potret kemampuan riil peserta didik di lapangan, yang selama ini bisa tertutupi oleh sistem penilaian internal di sekolah. Karena itu, ia mendorong adanya peninjauan ulang terhadap proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di setiap satuan pendidikan.

Selain faktor sekolah, Damayanti juga menyoroti peran lingkungan dan kebiasaan anak di luar jam belajar. Menurutnya, waktu anak lebih banyak dihabiskan di luar sekolah, sehingga peran keluarga menjadi sangat penting dalam membentuk karakter, kedisiplinan, serta kemampuan berpikir kritis.

“Jangan sampai ketika capaian akademik menurun, tanggung jawabnya hanya dibebankan kepada sekolah. Pendidikan dalam keluarga juga merupakan bagian penting. Ini pekerjaan rumah kita bersama,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan dampak kemajuan teknologi, khususnya penggunaan gawai yang berlebihan. Menurut Damayanti, kebiasaan tersebut berpotensi mengalihkan fokus anak dari proses belajar yang seharusnya melatih logika dasar dan pemahaman akademik.

Damayanti berharap, data hasil TKA di Kalimantan Timur dapat dijadikan pijakan utama dalam evaluasi dan perumusan kebijakan pendidikan ke depan, agar kualitas sumber daya manusia Kaltim tidak tertinggal dan mampu bersaing di tingkat nasional.

Baca Juga:   Cegah Banjir Akibat Sampah, Bontang Gelar Lomba Pemilahan Sampah Antar RT

Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Agus S.

BERITA POPULER